Jumat, 16 Juni 2023

Konsep Kenosis (pengosongan diri)

Konsep Kenosis (pengosongan diri) merujuk pada ajaran bahwa Yesus, dalam kehidupan-Nya sebagai manusia, secara sukarela mengosongkan diri-Nya dari beberapa atribut-Nya yang Ilahi. Dalam konsep ini, Yesus memilih untuk tidak menggunakan sepenuhnya kemampuan-Nya sebagai Allah, tetapi mengambil rupa manusia yang rentan dan terbatas. Meskipun Ia tetap 100% Allah, Ia memilih untuk tidak selalu menunjukkan sifat ke-Ilahian-Nya selama kehidupan-Nya di dunia.

Pengosongan diri ini terlihat dalam banyak contoh, di mana Yesus mengalami kebutuhan dan pengalaman manusiawi seperti tidur, makan, lapar, dan pencobaan. Dia juga mengklaim keterbatasan-Nya dalam pengetahuan tentang waktu kedatangan-Nya yang kedua kali. Semua ini menunjukkan bahwa walaupun Ia memiliki keilahian, Ia hidup dalam batasan dan pengalaman manusia yang nyata.

Tujuan dari Kenosis adalah untuk memungkinkan Yesus mengalami hidup manusia sepenuhnya, termasuk penderitaan dan kematian, sehingga Ia bisa menjadi Juru Selamat yang mampu merasakan dan memahami penderitaan manusia, serta membawa keselamatan melalui pengorbanan-Nya di kayu salib.

Implikasi dari pengosongan diri ini adalah bahwa Yesus tidak hanya menjadi figur spiritual yang jauh dan tidak dapat dicapai, tetapi Ia menjadi seseorang yang dapat didekati dan dipahami oleh umat manusia. Dalam kehidupan-Nya yang manusiawi, Ia memberikan contoh tentang bagaimana hidup yang benar dan mengasihi sesama, serta menyediakan jalan keselamatan bagi mereka yang percaya kepada-Nya.

Dalam teologi Kristen, pengosongan diri Yesus (kenosis) adalah bagian integral dari pengajaran tentang inkarnasi-Nya. Konsep ini membantu umat Kristen memahami hubungan unik antara kemanusiaan dan keilahian Yesus serta arti pentingnya dalam penyelamatan manusia.

Kamis, 15 Juni 2023

t14

Yohanes 15:26:
"Jikalau Aku pergi, Aku akan mengutus Penghibur kepada kamu; yaitu Roh Kebenaran yang keluar dari Bapa, Ia akan bersaksi tentang Aku."

Dalam ayat ini, Yesus berbicara kepada para pengikut-Nya tentang Roh Kudus. Ia menyatakan bahwa ketika Ia pergi, Ia akan mengutus Penghibur kepada mereka. Penghibur yang dikirim oleh Yesus adalah Roh Kebenaran, yang keluar dari Bapa. Roh Kudus ini akan bersaksi tentang Yesus dan memperkenalkan-Nya kepada mereka.

Selanjutnya, Anda menyatakan bahwa baik Firman (Yesus) maupun Roh Kudus adalah pribadi yang berbeda satu sama lain, dan keduanya juga berbeda dengan Bapa. Hal ini menunjukkan konsep keesaan Allah yang trinitarian, yaitu keyakinan bahwa Allah adalah satu dalam tiga pribadi: Bapa, Anak (Yesus), dan Roh Kudus. Firman (Yesus) dan Roh Kudus adalah pribadi yang berbeda satu sama lain, namun mereka bersatu dalam satu Allah yang sejati.

Allah (Bapa) adalah sumber dari Firman dan Roh Kudus. Firman (Yesus) berasal dari Firman-Nya Allah, dan Roh Kudus berasal dari Roh-Nya Allah. Ini menggarisbawahi keilahian dan keberadaan yang sejati dari kedua pribadi ini.

Dalam ajaran Alkitab dan pengajaran gereja, Allah dinyatakan sebagai Allah yang Mahabesar dan Maha Misterius. Konsep keesaan Allah dalam Alkitab adalah trinitarian, yaitu kepercayaan bahwa Allah ada dalam tiga pribadi yang saling berhubungan. Konsep ini dijelaskan dan dirumuskan secara lebih jelas dalam konsili-konsili gereja.

Dengan demikian, kalimat-kalimat ini menegaskan keberadaan pribadi-pribadi yang berbeda dalam Tritunggal Allah, yaitu Bapa, Anak (Yesus), dan Roh Kudus, serta keilahian dan sumber mereka yang bersatu dalam Allah yang satu.

t13

1. Yohanes 1:1,14:
   "Pada mulanya adalah Firman, Firman itu bersama-sama dengan Allah."
   "Firman itu telah menjadi manusia, dan diam di antara kita dan kita melihat kemuliaan-Nya,— yaitu kemuliaan yang diberikan kepada-Nya sebagai Anak Tunggal Bapa, penuh kasih karunia dan kebenaran."

Dalam Yohanes 1:1, dikatakan bahwa pada awalnya ada Firman. Firman ini bersama-sama dengan Allah. Dalam konteks ini, Firman merujuk kepada Yesus Kristus. Firman adalah pengungkapan Allah yang hidup, dan ia ada bersama-sama dengan Allah sejak awal. Firman ini memiliki kodrat ilahi dan bersatu dengan Allah.

Kemudian, dalam Yohanes 1:14, dikatakan bahwa Firman itu menjadi manusia. Ini mengacu pada inkarnasi Yesus Kristus, di mana Firman yang kekal menjadi manusia dengan menjelma sebagai Yesus Kristus. Yesus hidup di tengah-tengah manusia dan mereka melihat kemuliaan-Nya, yaitu kemuliaan yang diberikan kepada-Nya sebagai Anak Tunggal Bapa. Yesus adalah satu-satunya Anak Allah yang memiliki sifat ilahi dan manusia, penuh dengan kasih karunia dan kebenaran.

2. Yohanes 16:27-28:
   "Sebab Bapa sendiri mengasihi kamu, karena kamu telah mengasihi Aku dan percaya, bahwa Aku datang dari Allah. Aku datang dari Bapa dan Aku datang ke dalam dunia; Aku meninggalkan dunia pula dan pergi kepada Bapa."

Dalam ayat ini, Yesus berbicara kepada para pengikut-Nya dan mengatakan bahwa Bapa, yaitu Allah, mengasihi mereka karena mereka telah mengasihi Yesus dan percaya bahwa Yesus datang dari Allah. Yesus mengatakan bahwa Ia datang dari Bapa dan datang ke dalam dunia ini sebagai bagian dari misi-Nya. Namun, pada akhirnya, Yesus akan meninggalkan dunia ini dan pergi kepada Bapa, kembali ke keadaan-Nya yang sejati.

Dengan demikian, kalimat-kalimat ini menekankan identitas dan hubungan Yesus Kristus dengan Allah Bapa. Yesus adalah Firman yang bersama-sama dengan Allah sejak awal, dan kemudian Ia menjadi manusia. Ia datang dari Allah Bapa untuk menebus manusia dan mengungkapkan kasih karunia dan kebenaran-Nya. Percaya kepada Yesus sebagai Anak Allah dan mengasihi-Nya adalah tanda bahwa seseorang juga mengasihi Bapa dan percaya kepada-Nya.

t12

Kalimat yang Anda kutip berasal dari ayat 6a dari Surat Paulus kepada jemaat di Korintus, yaitu 1 Korintus 8:6a. Dalam ayat ini, Paulus menyatakan, "namun bagi kita hanya ada satu Allah saja, yaitu Bapa, yang daripada-Nya berasal segala sesuatu." 

Maksud dari kalimat ini adalah bahwa Paulus mengajarkan bahwa bagi orang percaya, hanya ada satu Allah yang diakui dan disembah, dan itu adalah Bapa. Allah Bapa di sini merujuk kepada Allah Tritunggal dalam tradisi Kekristenan, yang terdiri dari Bapa, Anak (Yesus Kristus), dan Roh Kudus. 

Dalam konsep Tritunggal, Allah Bapa adalah sumber dari segala sesuatu. Segala sesuatu, termasuk ciptaan dan kehidupan, berasal dari-Nya. Dalam keyakinan Kristen, Allah Bapa adalah pencipta alam semesta dan pemelihara segala sesuatu yang ada.

Penting untuk dicatat bahwa ayat ini terletak dalam konteks diskusi tentang memakan makanan yang dipersembahkan kepada berhala dalam kehidupan sehari-hari. Paulus mengingatkan jemaat bahwa meskipun ada banyak dewa-dewa dan tuhan-tuhan yang disembah di dunia, bagi orang percaya hanya ada satu Allah yang benar, yaitu Allah Bapa.

Jadi, maksud dari kalimat ini adalah untuk menekankan keesaan Allah yang sejati, di mana Allah Bapa adalah sumber dari segala sesuatu dan satu-satunya Allah yang patut disembah oleh orang percaya.

Rabu, 14 Juni 2023

a1

ALLAH BAPA ADALAH SUMBE  
I Korintus 8: 6a 
"namun bagi kita hanya ada satu Allah saja, yaitu Bapa, yang daripada-Nya berasal segala sesuatu . 

YESUS ADALAH FIRMAN YG KELUAR DAN DATANG DARI Bapa

Yohanes 1: 1,14 
1: Pada mulanya adalah Firman, Firman itu bersama-sama dengan Allah

14: Firman itu telah menjadi manusia, dan diam di antara kita dan kita melihat kemuliaan-Nya,— yaitu kemuliaan yang diberikan kepada-Nya sebagai Anak Tunggal Bapa, penuh kasih karunia dan kebenaran" 

YOHANES 16: 27-28 
Sebab Bapa sendiri mengasih 
kamu, karena kamu tlh mengasihi AKU dan percaya, bahwa AKU datang dari Allah. 28: Aku datang dari Bapa dan AKU dtg ke dalam dunia; AKU meninggalkan dunia pula dqn.pergi kepada Bapa. 


ROH KUDUS KELUAR DARI Bapa
Yohanes 15:26 

"Jikalau Namun balk Firman maupun Roh adalah Pribadi yang berbeda satu dengan yang lain, dan keduanya juga berbeda dengan Bapa. (Inilah unsur kejamakan Allah). Penghibur yang akan Ku utus dari Bapa datang, yaitu Roh Kebenaran yang keluar dari Bapa. la akan bersaksi tentang Aku. 

Allah (Bapa) adalah sumber dari Firman dan Roh. - Krn itu Hakekat Firman adalarui Firman-Nya Allah. - Hakekat Roh adalah Roh-Nya Allah. 

Namun balk Firman maupun Roh adalah Pribadi yang berbeda satu dengan yang lain, dan keduanya juga berbeda dengan Bapa. (Inilah unsur kejamakan Allah). 
- Inilah Allah yg Mahabesar dan Maha misterius bagi kita umat ciptaan-Nya. 
Keesaan Allah dalam Alkitab bersifat "trinitarian." (bukan "unitarian"). 

• Ini jelas ajaran Alkitab, dan kemudian atas pimpinan Tuhan Bapa2 Gereja menunjukkan & merumuskan secara jelas dlm konsili2 Gereja. 



t11

I Petrus 1:2 dalam Terjemahan Baru (TB) menyatakan, "Menurut pilihan Allah Bapa dan oleh penyucian Roh untuk taat kepada Yesus Kristus dan disiram oleh darah-Nya: Kiranya kasih karunia dan damai sejahtera melimpah-limpah kepadamu." Ayat ini menyoroti peran ketiga pribadi ilahi dalam kehidupan orang percaya, yaitu Allah Bapa, Roh Kudus, dan Yesus Kristus.

Meskipun ayat ini tidak secara langsung menyebutkan konsep Tritunggal, ada implikasi dari kehadiran ketiga pribadi ilahi dalam satu konteks. Allah Bapa adalah yang memilih dan mengadopsi kita sebagai anak-anak-Nya. Roh Kudus menyucikan dan membimbing kita dalam ketaatan kepada Yesus Kristus. Yesus Kristus sendiri adalah sumber keselamatan dan karya penebusan melalui darah-Nya yang dicurahkan.

I Yohanes 5:7 dalam Terjemahan Baru (TB) sebagian besar terjemahan modern tidak memasukkan frasa ini karena tidak terdapat dalam banyak naskah asli. Namun, dalam beberapa terjemahan yang memasukkannya, ayat ini menyatakan, "Sebab ada tiga yang memberi kesaksian, yaitu Roh, air dan darah, dan ketiganya adalah satu."

Ayat ini secara kontroversial dikenal sebagai "Comma Johanneum" karena terdapat perdebatan mengenai keasliannya. Beberapa pakar teks Alkitab menganggapnya sebagai interpolasi atau tambahan kemudian dalam naskah. Oleh karena itu, banyak terjemahan modern yang tidak memasukkan frasa ini karena alasan teks kritis.

Dalam konteks Tritunggal, I Yohanes 5:7 tidak memberikan dukungan yang jelas dan kuat. Konsensus sebagian besar pakar Alkitab mengarah pada kesimpulan bahwa ayat ini tidak asli dan tidak digunakan sebagai dasar untuk memahami doktrin Tritunggal.

Penting untuk mencatat bahwa doktrin Tritunggal yang mengajarkan kejamakan Allah Bapa, Allah Putra (Yesus Kristus), dan Allah Roh Kudus, ditemukan dalam keseluruhan pengajaran Alkitab, terutama dalam konteks ayat-ayat yang menggambarkan interaksi dan hubungan antara ketiga pribadi tersebut.

t10

Bilangan 6:24-26 dalam Terjemahan Baru (TB) menyatakan, "TUHAN memberkati engkau dan melindungi engkau; TUHAN menyinari engkau dengan wajah-Nya dan memberi engkau kasih karunia; TUHAN menghadapkan wajah-Nya kepadamu dan memberi engkau damai sejahtera." Ayat ini adalah doa pengucapan berkat yang diberikan kepada umat Israel.

Di sisi lain, 2 Korintus 13:13 menyatakan, "Kasih karunia Tuhan Yesus Kristus, dan kasih Allah, dan persekutuan Roh Kudus menyertai kamu sekalian." Ayat ini mengungkapkan salam dan berkat dari rasul Paulus kepada jemaat di Korintus.

Ketika membandingkan kedua ayat ini, ada beberapa kesamaan dalam pesan dan tema. Keduanya berbicara tentang berkat dan kasih karunia yang berasal dari Allah. Bilangan 6:24-26 menekankan bahwa TUHAN memberkati, melindungi, menyinari, dan memberi damai sejahtera. Sementara itu, 2 Korintus 13:13 menekankan kasih karunia Tuhan Yesus Kristus, kasih Allah, dan persekutuan Roh Kudus.

Kedua ayat tersebut, meskipun mengungkapkan dalam konteks yang berbeda, menyampaikan pesan tentang kehadiran dan kejamakan Allah yang memberikan berkat dan kasih karunia kepada umat-Nya.

T9

Data dalam Perjanjian Baru tentang kejamakan Allah dari ayat-ayat berikut ini :

1. Matius 3:16-17: Ayat ini menggambarkan peristiwa baptisan Yesus di sungai Yordan. Ketika Yesus dibaptis, Roh Kudus turun seperti burung merpati dan suara dari Surga mengatakan, "Inilah Anak-Ku yang Kukasihi, kepada-Nyalah Aku berkenan." Ayat ini menunjukkan kehadiran Bapa (suara dari Surga), Anak (Yesus), dan Roh Kudus yang semuanya ada bersama dalam momen ini.

2. Matius 28:19: Ayat ini mencatat perintah Yesus kepada murid-murid-Nya untuk pergi dan membuat murid-murid dari semua bangsa, "membaptis mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus." Ayat ini menunjukkan bahwa dalam tindakan pembaptisan, ada pengenalan terhadap kejamakan Allah, di mana murid-murid diminta untuk dibaptis dalam nama ketiga pribadi Allah yaitu Bapa, Anak, dan Roh Kudus.

3. Yohanes 14:16: Yesus berbicara tentang penghiburan yang akan dikirim oleh Bapa, yaitu "Penghibur lain, yaitu Roh Kebenaran." Penghibur ini adalah Roh Kudus, yang dikirim oleh Bapa untuk menghibur dan memimpin para pengikut Yesus.

4. Yohanes 14:26: Yesus berbicara tentang pengajaran Roh Kudus yang akan mengingatkan dan mengajarkan segala sesuatu kepada para pengikut-Nya. Ayat ini menunjukkan bahwa kehadiran Roh Kudus memberikan pengajaran dan pengingat kepada orang-orang yang percaya.

5. Yohanes 16:15: Yesus mengatakan bahwa Roh Kudus akan mengambil dari apa yang adalah milik-Nya (Yesus) dan memberitahukannya kepada para pengikut-Nya. Ini menunjukkan bahwa Roh Kudus, sebagai bagian dari kejamakan Allah, mengarahkan perhatian kepada Yesus dan memberitakan-Nya kepada orang-orang.

6. 2 Korintus 13:13: Ayat ini mengungkapkan doa Paulus untuk jemaat di Korintus, di mana ia berbicara tentang "kasih karunia Tuhan Yesus Kristus, dan kasih Allah, dan persekutuan Roh Kudus." Doa ini mengakui kehadiran dan peran ketiga pribadi Allah dalam memberikan kasih karunia dan persekutuan kepada orang percaya.

7. I Petrus 1:2: Ayat ini merujuk kepada pemilihan dan penyucian yang terjadi melalui Roh Kudus, "sesuai dengan rencana Allah Bapa dan oleh pekerjaan Roh Kudus." Ayat ini menegaskan peran Roh Kudus dalam melaksanakan rencana penyelamatan Allah.

8. I Yohanes 5:7: Ayat ini, yang juga dikenal sebagai Comma Johanneum, telah menjadi kontroversial karena tidak ada dalam banyak salinan asli Perjanjian Baru. Namun, meskipun keabsahan ayat ini diperdebatkan, jika kita mempertimbangkan ayat ini, ia menyatakan bahwa ada kesaksian di surga tentang Bapa, Firman (Yesus), dan Roh Kudus, dan ketiganya adalah satu.
Keseluruhan ayat-ayat ini menggambarkan kehadiran dan peran ketiga pribadi Allah (Bapa, Anak, dan Roh Kudus) dalam kehidupan orang percaya, menunjukkan kejamakan Allah yang mengasihi, memimpin, mengajar, menghibur, memberikan kasih karunia, dan menyelamatkan.

t 8

Dalam konteks kejamakan Tuhan, ayat-ayat  dari Yesaya 63:7-10 dapat dikaitkan dengan konsep Bapa, Putra, dan Roh Kudus. Berikut adalah penjelasan yang menghubungkan ayat-ayat tersebut dengan konsep tersebut:

1. Yesaya 63:7: "Aku hendak menyebut-nyebut perbuatan kasih setia TUHAN (Bapa)." Ayat ini menunjukkan bahwa perbuatan kasih setia tersebut adalah atribut Tuhan, yang dapat diasosiasikan dengan Bapa dalam konsep Trinitas. Bapa merupakan sumber dari kasih setia dan tindakan penyelamatan.

2. Yesaya 63:8: "Bukankah Ia (Bapa) berfirman: 'Sungguh, merekalah umat-Ku, anak-anak yang tidak akan berlaku curang,' maka Ia menjadi Juruselamat mereka." Ayat ini mengindikasikan bahwa Bapa berbicara dan menyatakan bahwa umat-Nya adalah milik-Nya dan bahwa Dia sendiri menjadi Juruselamat mereka. Hal ini dapat dihubungkan dengan konsep Yesus Kristus sebagai Putra Allah yang menjadi Juruselamat umat manusia.

3. Yesaya 63:10: "Tetapi mereka memberontak dan mendukakan Roh Kudus-Nya." Ayat ini menunjukkan bahwa Roh Kudus, yang dianggap sebagai manifestasi kehadiran Tuhan di dunia ini, telah diperolok-olok dan diabaikan oleh umat-Nya. Hal ini mencerminkan pelanggaran terhadap kehadiran dan peran Roh Kudus dalam hidup orang percaya.

Dalam interpretasi ini, Bapa diasosiasikan dengan perbuatan kasih setia, Putra adalah Juruselamat umat manusia, dan Roh Kudus adalah kehadiran dan kuasa Tuhan di dunia ini. 

Tritunggal 6

Dalam beberapa ayat Alkitab, penampakan malaikat sebenarnya merupakan penampakan Tuhan sendiri. Hal ini menggambarkan bahwa Tuhan dapat menampakan diri-Nya dalam bentuk malaikat untuk berkomunikasi dengan manusia. 

Dalam konteks Kejadian 22:1-19, ketika malaikat TUHAN (Malakh YHWH) berbicara kepada Abraham, itu sebenarnya merupakan penampakan Tuhan sendiri. Ayat-ayat tersebut menunjukkan bahwa Tuhan berbicara langsung kepada Abraham melalui malaikat-Nya. Meskipun istilah "malaikat" digunakan, namun identitas yang dinyatakan oleh malaikat tersebut adalah Tuhan sendiri. Ini menggambarkan kemampuan Tuhan untuk menampakan diri-Nya dalam bentuk yang dapat dipahami manusia untuk berkomunikasi dengan mereka.

Hal yang sama juga dapat dilihat dalam Kejadian 18, ketika Tuhan menampakan diri kepada Abraham dalam bentuk tiga orang. Awalnya, Abraham melihat tiga orang yang datang kepadanya, namun dalam perkembangan cerita, terungkap bahwa salah satu dari mereka adalah Tuhan sendiri.

Dalam beberapa situasi seperti ini, penampakan malaikat sebenarnya adalah manifestasi dari kehadiran Tuhan yang sebenarnya. Tuhan menggunakan bentuk malaikat untuk berbicara dan berinteraksi dengan manusia. Meskipun secara harfiah disebut sebagai malaikat, esensi dan identitas yang dinyatakan dalam percakapan tersebut adalah Tuhan sendiri.

Ini menunjukkan bahwa Tuhan adalah kejamakan-Nya sendiri, mampu menampakan diri dalam berbagai bentuk yang dapat dipahami manusia, termasuk dalam bentuk malaikat, untuk berkomunikasi dengan mereka dan menyatakan kehendak-Nya. Hal ini menegaskan keesaan Tuhan yang tak terbatas dalam keberagaman bentuk manifestasinya.

t7

Dalam ayat-ayat yang Anda sebutkan, terdapat beberapa aspek yang berkaitan dengan kejamakan Tuhan. Berikut ini adalah penjelasan dan analisis dari setiap ayat tersebut:

1. Kejadian 22:1-19:
Ayat-ayat ini mengisahkan percobaan yang diberikan Allah kepada Abraham untuk mengorbankan anaknya, Ishak. Saat Allah memanggil Abraham, Abraham menjawab dengan menyebut Tuhan. Ketika malaikat TUHAN (Malakh YHWH) memanggil Abraham, Abraham juga menyebut Tuhan. Hal ini menunjukkan penggunaan kata "TUHAN" dan "Allah" secara bergantian dalam konteks percobaan ini. Meskipun istilah yang digunakan tidak secara spesifik menyebut kejamakan Tuhan, hal ini menunjukkan bahwa Abraham mengakui bahwa Allah yang ia sembah adalah satu Allah yang esa.

2. Keluaran 3:2-6:
Ayat ini menceritakan peristiwa ketika Allah menampakkan diri kepada Musa melalui semak duri yang menyala. Musa memperhatikan bahwa semak duri tersebut tidak terbakar, sehingga ia memutuskan untuk mendekatinya. Allah berbicara kepada Musa dan menyebut diri-Nya sebagai "Allah ayahmu, Allah Abraham, Allah Ishak, dan Allah Yakub." Penggunaan kata "Allah" dalam konteks ini menunjukkan bahwa Allah adalah satu Allah yang telah muncul dalam sejarah melalui hubungan-Nya dengan para leluhur Israel. Meskipun tidak secara langsung menyebut kejamakan Tuhan, hal ini menegaskan keesaan dan kontinuitas Allah dalam hubungan-Nya dengan bangsa Israel.

3. Keluaran 23:20-23:
Ayat ini menekankan keberadaan malaikat TUHAN yang dikirim oleh Allah untuk melindungi dan membimbing bangsa Israel. Allah mengatakan bahwa malaikat-Nya akan berjalan di depan mereka dan membawa mereka ke tempat yang telah disediakan-Nya. Allah menyuruh bangsa Israel untuk mendengarkan perkataan malaikat-Nya dan mematuhi perintah-Nya. Meskipun tidak secara eksplisit menyebut kejamakan Tuhan, ayat ini menunjukkan keberadaan malaikat TUHAN sebagai perwujudan Allah yang menghadirikan diri-Nya kepada bangsa Israel.

4. Yesaya 63:7-14:
Ayat-ayat ini menyebutkan perbuatan kasih setia TUHAN terhadap bangsa Israel. Allah dipuji atas kebaikan-Nya dan kasih sayang-Nya yang besar terhadap umat-Nya. Allah menyatakan bahwa Dialah sendiri yang menjadi Juruselamat mereka dalam segala kesesakan dan Ia menebus mereka dalam kasih dan belas kasihan-Nya. Ayat ini mencerminkan kejamakan Tuhan dalam pengampunan, perlindungan, dan keselamatan yang diberikan-Nya kepada bangsa Israel.

Meskipun tidak secara khusus mengacu pada kejamakan Tuhan dalam pengertian keberagaman yang terpadu, ayat-ayat tersebut memberikan gambaran tentang keesaan dan tindakan Allah yang

 mengasihi, melindungi, dan menyelamatkan umat-Nya.

Tritunggal 5

Kejamakan Allah, merujuk pada konsep bahwa Allah adalah jamak atau ada dalam bentuk keberagaman yang terpadu. Dalam hal ini, kata "echad" digunakan untuk menggambarkan kejamakan Allah, yang berarti ada satu Allah dalam keberagaman yang terpadu.

Dalam rangka mengembangkan detail dan menganalisis setiap ayat Alkitab yang Anda sebutkan tentang kejamakan Allah, berikut adalah penjelasan tentang ayat-ayat tersebut:

1. Ulangan 6:4:
"Mendengarlah, hai Israel: TUHAN, Allah kita, TUHAN itu esa!"

Ayat ini menekankan keesaan Allah, yang dinyatakan dalam frasa "TUHAN itu esa." Meskipun kata "esa" dalam ayat ini digunakan dalam arti tunggal, dalam konteks keseluruhan Kitab Ulangan dan pemahaman Ibrani, hal ini mengandung makna lebih dalam yang menggambarkan kejamakan Allah. Meskipun ada keberagaman dalam karakteristik dan atribut Allah, Dia tetap satu dan tidak dapat dibagi-bagi.

2. Kejadian 1:26-27:
"Lalu berfirmanlah Allah: Baiklah Kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa Kita, supaya mereka berkuasa atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas ternak dan atas seluruh bumi dan atas segala binatang melata yang merayap di bumi. Maka Allah menciptakan manusia itu menurut gambar-Nya, menurut gambar Allah diciptakan-Nya dia; sebagai laki-laki dan perempuan diciptakan-Nya mereka."

Ayat ini menunjukkan kejamakan Allah dalam konteks penciptaan manusia. Frasa "Kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa Kita" menunjukkan adanya keberagaman dalam Allah yang berpadu menjadi satu. Manusia diciptakan menurut gambar Allah yang tidak dapat dijelaskan secara fisik, mencerminkan kejamakan Allah dalam wujud manusia sebagai laki-laki dan perempuan.

3. Kejadian 3:22:
"Lalu TUHAN, Allah, berfirman: 'Sesungguhnya manusia itu telah menjadi seperti salah satu dari Kita, tahu tentang yang baik dan yang jahat.'"

Ayat ini menggambarkan peristiwa setelah dosa manusia pertama di Taman Eden. Allah menyatakan bahwa manusia telah menjadi seperti salah satu dari "Kita", menunjukkan kejamakan Allah dalam konteks yang terpadu. Meskipun Allah berbicara dalam bentuk jamak, hal ini menegaskan bahwa keberagaman dalam pengetahuan dan pemahaman tentang yang baik dan yang jahat ada dalam Allah yang esa.

4. Kejadian 11:7:
"Marilah turun dan Kita bercampur bahasa mereka, sehingga seorang tidak mengerti lagi bahasa seorang yang lain."

Ayat ini merujuk kepada peristiwa pembangunan Menara Babel. Allah menggunakan kata ganti "Kita

" dalam konteks kejamakan-Nya untuk menunjukkan tindakan-Nya yang melibatkan keberagaman yang terpadu. Allah berkuasa untuk mencampur bahasa manusia dan memperkenalkan keberagaman bahasa sebagai hukuman atas kebanggaan manusia.

5. Kejadian 19:24:
"Lalu TUHAN menurunkan hujan belerang dan api yang berasal dari TUHAN dari langit, menghancurkan Sodom dan Gomora."

Ayat ini mengisahkan penghancuran Sodom dan Gomora oleh Allah sebagai hukuman atas kejahatan mereka. Dalam ayat ini, penggunaan kata "TUHAN" dalam bentuk jamak menunjukkan kejamakan Allah dalam tindakan penghukuman-Nya. Allah yang esa, dalam keberagaman-Nya, menunjukkan kuasa-Nya dalam menghancurkan kota-kota tersebut.

6. Kejadian 22:1-19:
"Kemudian datanglah firman TUHAN kepada Abraham dalam suatu penglihatan, demikian: 'Abraham!' Jawabnya: 'Ya, Tuhan.' Firman-Nya: 'Ambillah anakmu, anakmu yang tunggal itu, yang engkau kasihi, yaitu Ishak, pergilah ke tanah Moria dan persembahkanlah dia di sana sebagai korban bakaran pada salah satu gunung yang akan Kukatakan kepadamu.'"

Ayat ini menceritakan perintah Allah kepada Abraham untuk mengorbankan anak tunggalnya, Ishak. Penggunaan kata "TUHAN" dalam bentuk jamak menunjukkan kejamakan Allah dalam perintah-Nya kepada Abraham. Meskipun hanya ada satu Allah yang esa, perintah ini menggambarkan keberagaman dalam kehendak dan tindakan Allah yang terpadu.

Dengan menganalisis ayat-ayat tersebut, terlihat bahwa meskipun ada penggunaan kata "TUHAN" dalam bentuk tunggal, konteks keseluruhan dan pengertian Ibrani mendukung konsep kejamakan Allah. Dalam kejamakan-Nya, Allah adalah satu dalam keberagaman yang terpadu, mencakup karakteristik dan atribut-Nya yang unik.

Tritunggal 4

Kesatuan Allah dalam Perjanjian Baru:

1. Markus 12:29:
"Jawab Yesus: Inilah yang terutama: Dengarlah, hai Israel: Tuhan kita, Tuhan itu esa."

Ayat ini adalah bagian dari percakapan antara Yesus dan seorang ahli Taurat yang bertanya kepada-Nya tentang perintah yang terutama. Yesus menjawab dengan mengutip perkataan dari kitab Ulangan 6:4, yang juga terdapat dalam Perjanjian Lama. Dalam mengutip ayat ini, Yesus menekankan keesaan Allah sebagai yang terutama dan menegaskan bahwa hanya ada satu Tuhan yang harus disembah. Ayat ini menguatkan ajaran Perjanjian Lama tentang keesaan Allah dan memperlihatkan bahwa Yesus mengakui dan membenarkan kebenaran tersebut.

2. Yohanes 17:3:
"Inilah hidup yang kekal, yaitu bahwa mereka mengenal Engkau, Allah yang satu-satunya benar, dan mengenal Yesus Kristus yang telah Engkau utus."

Ayat ini merupakan bagian dari doa Yesus kepada Bapa-Nya sebelum penderitaan-Nya. Yesus berbicara tentang hidup yang kekal, dan menekankan bahwa hidup yang kekal terletak pada pengenalan akan Allah yang satu-satunya benar dan Yesus Kristus yang diutus oleh-Nya. Ayat ini menegaskan keesaan Allah dan memperlihatkan bahwa mengenal Allah adalah hal yang esensial dalam mencapai hidup yang kekal. Yesus mengajarkan pentingnya mengenal Allah yang benar dan menjadikan-Nya sebagai pusat dari kehidupan kita.

3. 1 Korintus 8:6:
"Namun bagi kami hanya ada satu Allah, yaitu Bapa, yang dari pada-Nya berasal segala sesuatu dan yang kami tujukan hidup kami kepada-Nya, dan satu Tuhan, yaitu Yesus Kristus, yang oleh-Nya adalah segala sesuatu dan yang oleh-Nya kami hidup."

Ayat ini ditulis oleh rasul Paulus kepada jemaat di Korintus. Paulus menegaskan bahwa bagi mereka yang percaya, hanya ada satu Allah yang mereka sembah, yaitu Bapa yang merupakan sumber segala sesuatu. Mereka juga mengakui satu Tuhan, yaitu Yesus Kristus, yang adalah perantara antara Allah dan manusia. Ayat ini menunjukkan bahwa keesaan Allah terwujud dalam hubungan yang erat antara Bapa dan Anak-Nya, Yesus Kristus. Keesaan Allah dalam Perjanjian Baru dipahami melalui pengenalan dan penghormatan terhadap Allah Bapa dan Yesus Kristus sebagai Tuhan.

4. 1 Timotius 2:5:
"Sebab ada satu Allah dan satu perantara antara Allah dan manusia, yaitu manusia Kristus Yesus."

Ayat ini ditulis oleh rasul Paulus kepada Timotius. Paulus menekankan bahwa hanya ada satu Allah dan satu perantara antara Allah dan manusia, yaitu Yesus Kristus. Ayat ini menegaskan bahwa Yesus Kristus adalah satu-satunya jalan yang mempertemukan manusia dengan Allah. Melalui peran-Nya sebagai perantara, Yesus Kristus membawa keselamatan dan memberikan akses kepada manusia untuk berhubungan dengan Allah yang esa. Ayat ini menguatkan ajaran keesaan Allah dalam Perjanjian Baru dan pentingnya Yesus Kristus sebagai jembatan antara Allah dan manusia.

Melalui analisis ayat-ayat tersebut, dapat dilihat bahwa Perjanjian Baru juga menekankan dan memperkuat ajaran keesaan Allah yang ada dalam Perjanjian Lama. Ayat-ayat ini menunjukkan kesinambungan antara kedua perjanjian tersebut dalam mengajarkan bahwa hanya ada satu Allah yang benar dan patut disembah. Mereka menggarisbawahi pentingnya pengenalan dan penghormatan terhadap Allah yang esa, dan menunjukkan Yesus Kristus sebagai perantara antara Allah dan manusia dalam mewujudkan hubungan yang erat dengan-Nya.

Tritunggal3

Kesatuan Allah dalam Perjanjian Lama:

1. Ulangan 6:4:
"Akhir kata, inilah yang harus kamu dengar, hai Israel: TUHAN, Allah kita, TUHAN itu esa!"

Ayat ini merupakan salah satu pernyataan terkenal dalam Alkitab yang dikenal sebagai Syema, yang merupakan bagian penting dalam doa Yahudi sehari-hari. Ayat ini menegaskan dengan tegas keesaan Allah, dan menekankan bahwa hanya ada satu TUHAN yang harus disembah. Hal ini menunjukkan bahwa dalam keyakinan Israel, keesaan Allah adalah asas utama yang harus dipatuhi dan diakui.

2. Ulangan 4:39:
"Ketahuilah pada hari ini dan renungkanlah dalam hatimu, bahwa TUHAN itu Allah di langit di atas dan di bumi di bawah, tidak ada yang lain."

Ayat ini juga menegaskan keesaan Allah dan mengajak orang-orang Israel untuk merenungkan dan mengenali bahwa hanya ada satu Allah yang berkuasa di surga dan di bumi. Hal ini menunjukkan bahwa Allah adalah yang tertinggi dan tidak ada ilah lain yang dapat menyamai-Nya. Ayat ini mengajarkan pentingnya pengakuan dan penghormatan terhadap keesaan Allah.

3. Ulangan 32:39:
"Ketahuilah sekarang, bahwa Akulah Allah, dan tidak ada allah lain di samping Aku; Akulah yang memberikan hidup dan mematikan, Akulah yang melukai dan juga menyembuhkan, dan tidak ada yang melepaskan tangan-Ku dari pada itu."

Ayat ini merupakan bagian dari nyanyian Musa yang mengingatkan bangsa Israel tentang kekuasaan dan kasih Allah. Allah menyatakan dengan tegas bahwa hanya ada satu Allah, dan tidak ada ilah lain selain-Nya. Allah adalah yang mengendalikan hidup dan kematian, memberikan penyembuhan dan penghakiman, dan tidak ada yang dapat melepaskan diri dari kuasa-Nya. Ayat ini menekankan eksklusivitas dan kekuasaan Allah sebagai satu-satunya penguasa yang patut disembah.

4. Yesaya 43:10-11:
"Kamu adalah saksi-Ku, demikianlah firman TUHAN, dan aku, akulah Allah. Sebelum Aku tidak ada Allah yang tercipta dan sesudah Aku pun tidak akan ada. Akulah TUHAN, dan tidak ada yang dapat melepaskan dari tangan-Ku. Aku berbuat, dan siapakah yang dapat mencegahnya?"

Yesaya adalah salah satu nabi utama dalam Perjanjian Lama yang menyampaikan pesan-pesan Allah kepada bangsa Israel. Ayat ini menegaskan bahwa bangsa Israel adalah saksi Allah yang dipilih-Nya, dan Allah menyatakan diri-Nya sebagai satu-satunya Allah yang ada sejak awal dan tidak akan ada Allah lain selain-Nya di masa depan. Allah menegaskan bahwa tidak ada yang mampu melepaskan diri dari kuasa-Nya, dan bahwa tidak ada yang dapat menghalangi rencana dan perbuatan-Nya. Ayat ini mengajak bang

Tentu, berikut adalah pengembangan dengan detail dan analisis setiap ayat Alkitab yang Anda sebutkan mengenai kesatuan Allah dalam Perjanjian Lama:

1. Ulangan 6:4:
"Akhir kata, inilah yang harus kamu dengar, hai Israel: TUHAN, Allah kita, TUHAN itu esa!"

Ayat ini merupakan salah satu pernyataan terkenal dalam Alkitab yang dikenal sebagai Syema, yang merupakan bagian penting dalam doa Yahudi sehari-hari. Ayat ini menegaskan dengan tegas keesaan Allah, dan menekankan bahwa hanya ada satu TUHAN yang harus disembah. Hal ini menunjukkan bahwa dalam keyakinan Israel, keesaan Allah adalah asas utama yang harus dipatuhi dan diakui.

2. Ulangan 4:39:
"Ketahuilah pada hari ini dan renungkanlah dalam hatimu, bahwa TUHAN itu Allah di langit di atas dan di bumi di bawah, tidak ada yang lain."

Ayat ini juga menegaskan keesaan Allah dan mengajak orang-orang Israel untuk merenungkan dan mengenali bahwa hanya ada satu Allah yang berkuasa di surga dan di bumi. Hal ini menunjukkan bahwa Allah adalah yang tertinggi dan tidak ada ilah lain yang dapat menyamai-Nya. Ayat ini mengajarkan pentingnya pengakuan dan penghormatan terhadap keesaan Allah.

3. Ulangan 32:39:
"Ketahuilah sekarang, bahwa Akulah Allah, dan tidak ada allah lain di samping Aku; Akulah yang memberikan hidup dan mematikan, Akulah yang melukai dan juga menyembuhkan, dan tidak ada yang melepaskan tangan-Ku dari pada itu."

Ayat ini merupakan bagian dari nyanyian Musa yang mengingatkan bangsa Israel tentang kekuasaan dan kasih Allah. Allah menyatakan dengan tegas bahwa hanya ada satu Allah, dan tidak ada ilah lain selain-Nya. Allah adalah yang mengendalikan hidup dan kematian, memberikan penyembuhan dan penghakiman, dan tidak ada yang dapat melepaskan diri dari kuasa-Nya. Ayat ini menekankan eksklusivitas dan kekuasaan Allah sebagai satu-satunya penguasa yang patut disembah.

4. Yesaya 43:10-11:
"Kamu adalah saksi-Ku, demikianlah firman TUHAN, dan aku, akulah Allah. Sebelum Aku tidak ada Allah yang tercipta dan sesudah Aku pun tidak akan ada. Akulah TUHAN, dan tidak ada yang dapat melepaskan dari tangan-Ku. Aku berbuat, dan siapakah yang dapat mencegahnya?"

Yesaya adalah salah satu nabi utama dalam Perjanjian Lama yang menyampaikan pesan-pesan Allah kepada bangsa Israel. Ayat ini menegaskan bahwa bangsa Israel adalah saksi Allah yang dipilih-Nya, dan Allah menyatakan diri-Nya sebagai satu-satunya Allah yang ada sejak awal dan tidak akan ada Allah lain selain-Nya di masa depan. Allah menegaskan bahwa tidak ada yang mampu melepaskan diri dari kuasa-Nya, dan bahwa tidak ada yang dapat menghalangi rencana dan perbuatan-Nya. Ayat ini mengajak bangsa Israel untuk mengakui dan mengabdi kepada Allah yang esa.

5. Yesaya 44:6:
"Beginilah firman TUHAN, Raja Israel dan Penebusnya, TUHAN semesta alam: Aku adalah yang mula dan yang terakhir, dan tidak ada Allah lain selain Aku."

Ayat ini menunjukkan kuasa dan otoritas Allah sebagai Raja Israel dan Penebus. Allah menyatakan bahwa hanya ada satu Allah, yang ada sejak awal dan akan ada sampai akhir. Tidak ada Allah lain yang sebanding atau setara dengan-Nya. Ayat ini menekankan eksklusivitas dan keesaan Allah serta kekuasaan-Nya sebagai satu-satunya penguasa.

6. Maleakhi 2:10:
"Bukankah kita sekalian adalah bapa yang sama, bukankah satu Allah yang menciptakan kita? Mengapakah kita berbuat khianat seorang terhadap yang lain, dengan melanggar perjanjian nenek moyang kita?"

Ayat ini menyoroti persatuan dan kesatuan umat manusia dalam penciptaan Allah. Allah adalah satu Allah yang menciptakan kita semua, dan oleh karena itu, semua orang adalah bapa yang sama, karena kita berasal dari satu keturunan. Ayat ini menegaskan bahwa melanggar perjanjian dan berbuat khianat terhadap sesama manusia adalah pelanggaran terhadap prinsip keesaan Allah. Ayat ini mengajak umat manusia untuk hidup dalam kesatuan, saling mengasihi, dan tidak saling berkhianat.

Melalui analisis ayat-ayat tersebut, terlihat jelas bahwa Perjanjian Lama mengajarkan dan menegaskan keesaan Allah. Ayat-ayat tersebut menunjukkan pentingnya mengakui dan menghormati Allah yang esa, dan menghindari penyembahan kepada ilah lain atau berbuat khianat terhadap-Nya. Pengajaran ini memberikan dasar teologis bagi keyakinan Yahudi dan Kristen tentang keesaan Allah.


Tritunggal2

doktrin Allah Esatri atau Tritunggal yang berkembang dalam tradisi Bapa-bapa Gereja.  Allah yang benar adalah Allah yang Mahabesar dan Misterius (transenden) yang tidak dapat sepenuhnya dipahami oleh akal manusia yang terbatas. Oleh karena itu, pemahaman tentang Allah hanya dapat diperoleh melalui wahyu yang dinyatakan-Nya dalam kitab suci.

mencerminkan pandangan teologis yang mendasarkan pemahaman tentang Allah secara eksklusif pada wahyu yang terkandung dalam Alkitab. Ini menunjukkan keyakinan bahwa batasan manusia tidak mampu sepenuhnya memahami sifat dan hakikat Allah yang Mahabesar. Oleh karena itu, penafsiran atau pemahaman tentang Allah yang berada di luar apa yang dinyatakan dalam Alkitab dianggap sebagai "illah lain" atau konsepsi yang salah.
Pandangan ini merupakan satu perspektif dalam teologi Kristen. Ada berbagai pandangan dan interpretasi tentang Allah dalam berbagai tradisi keagamaan di seluruh dunia. Beberapa mungkin tidak sepenuhnya setuju dengan pandangan bahwa Allah hanya dapat dipahami melalui wahyu yang dinyatakan dalam Alkitab. 

Tritunggal 1

Doktrin Allah Esatri (Tritunggal) adl hasil dari pergumulan memahami FT berabad-abad oleh Bapa2 Gereja. Allah yang benar adalah Allah yang Mahabesar dan Misterius (transenden), yg tdk mampu dipahami oleh otak manusia yg terbatas.
Oleh krn itu Allah hanya dpt dipahami menurut wahyu yg dinyatakan-Nya dalam kitab suci-Nya. Pengertian ttg Allah yg dipahami di luar apa yang dinyatakan oleh Alkitab adalah “illah lain.”

KEESAAN ALLAH
DATA DALAM P L TENTANG KEESAAN ALLAH
Ulangan 6:4
ULANGAN 4:39
ULANGAN 32:39
Yesaya 43:10-11
Yesaya 44:6
Maleakhi 2:10 

DATADALAM P B TENTANG KEESAAN ALLAH
Markus 12:29
Yohanes 17:3
I Korintus 8:6
I Timotius 2:5
Baik PL maupun PB menegaskan bahwa hanya ada satu Allah saja (Allah yang esa)

KEJAMAKAN ALLAH

DATA DLM P L TTG KEJAMAKAN ALLAH
ULANGAN 6: 4
 Echad (satu - jamak/kolektif) (bhs Arab: Ahad)
 Yakhid (satu - tunggal) (bhs Arab: wahid)

Contoh dalam Kejadian 2:24:
KEJADIAN 1:26-27
Kejadian 3 : 22
Kejadian 11: 7
Kejadian 19:24
Kejadian 22: 1-19
1: Setelah semuanya itu Allah men-coba Abraham . Ia berfirman kepada-nya: “Abraham,” lalu sahutnya: “ya, Tuhan.” 2: Firman-Nya: “Ambillah anakmu yg tunggal itu, yg engkau kasihi, yakni Ishak, pergilah ke tanah Moria dan persembahkanlah dia di sana . . .”
11: Ttp berseruhlah Malaikat TUHAN dari langit kepadanya: Abraham, Abraham.” Sahutnya: “Ya, Tuhan.” 12: Lalu ia berfirman: “Jgn bunuh anak itu dan jgn kau apa2kan dia Sbb kuketahui skrg bhw engkau takut akan Allah dan engkau tdk segan2 utk menyerahkan anakmu yg tunggal kepada-KU.
15: Untuk kedua kalinya berserulah Malaikat TUHAN dari langit kepada Abraham, 16: Kata-Nya: “AKU bersumpah demi diri-KU sendiri – demikianlah Firman TUHAN - : krn engkau tlh berbuat demikian, dan engkau tdk segan2 utk menyerahkan anakmu yg tunggal kepada-KU, 
17: maka AKU akan memberkati engkau berlimpah-limpah dan membuat keturunanmu sangat banyak spt bintang di langit dan spt pasir di laut . . . 18: Oleh keturunanmulah semua bangsa di bumi akan mendpt berkat, krn engkau mendengarkan firman-KU.

Keluaran 3: 2-6
2: Lalu Malaikat TUHAN menampakkan diri kepadanya di dalam nyala api yg keluar dari semak duri. Lalu ia melihat, dan tampaklah semak duri itu menyalah, ttp tdk dimakan api.
3: Musa berkata: “Baiklah aku menyimpang ke sana utk memeriksa penglihatan yg hebat itu. Mengapa-kah tidak terbakar semak duri itu?” 4: Ketika dilihat TUHAN , bhw Musa menyimpang utk memeriksanya, berserulah Allah dari tengah2 semak duri itu kepadanya: “Musa, Musa” dan ia menjawab: “Ya, Allah.”
5: Lalu ia berfirman: “janganlah dtg dekat2: tanggalkanlah kasutmu dari kakimu, sebab tempat, di mana engkau berdiri itu, adalah tanah yang kudus.” 6: Lalu Ia berfirman: “AKU-lah Allah ayahmu, Allah Abraham, Allah Ishak dan Allah Yakub.” Lalu Musa menutupi mukanya, sebab ia takut memandang Allah.
Keluaran 23:2O-23
23:20 "Sesungguhnya Aku mengutus seorang malaikat berjalan di depanmu, untuk melindungi engkau di jalan dan untuk membawa engkau ke tempat yang telah Kusediakan. 23:21 Jagalah dirimu di hadapannya dan dengarkanlah perkataannya, janganlah engkau mendurhaka kepadanya, sebab pelanggaranmu tidak akan diampuninya, sebab nama-Ku ada di dalam dia.
22: Tetapi jika engkau sungguh-sungguh mendengarkan perkataannya, dan melakukan segala yang Kufirmankan, maka Aku akan memusuhi musuhmu, dan melawan lawanmu. 23: Sebab malaikat-Ku (Malakh YHWH) akan berjalan di depanmu dan membawa engkau kepada orang Amori, orang Het, orang Feris, orang Kanaan, orang Hewi dan orang Yebus, dan Aku akan melenyapkan mereka. (lht jg Kel.23:25 – 24:1)

Yesaya 63:7-14
63:7 Aku hendak menyebut-nyebut perbuatan kasih setia TUHAN, (Bapa) perbuatan TUHAN yang masyhur, sesuai dengan segala yang dilakukan TUHAN kepada kita, dan kebajikan yang besar kepada kaum Israel yang dilakukan-Nya kepada mereka sesuai dengan kasih sayang-Nya dan sesuai dengan kasih setia-Nya yang besar. 63:8 Bukankah Ia (Bapa) berfirman: "Sungguh, merekalah umat-Ku, anak-anak yang tidak akan berlaku curang," maka Ia menjadi Juruselamat mereka

63:9 dalam segala kesesakan mereka. Bukan seorang duta atau utusan, melainkan Ia sendirilah (Malaikat Kehadiran-Nya) yang menyelamatkan mereka; Dialah yang menebus mereka dalam kasih-Nya dan belas kasihan-Nya. Ia mengangkat dan menggendong mereka selama zaman dahulu kala. 63:10 Tetapi mereka memberontak dan mendukakan Roh Kudus-Nya; maka Ia berubah menjadi musuh mereka, dan Ia sendiri berperang melawan mereka.

DATA2 DLM P B TTG KEJAMAKAN ALLAH
Matius 3: 16-17
Matius 28:19
Yohanes 14: 16
Yohanes 14:26
Yohanes 16: 15
2 Korintus 13:13
“Kasih karunia Tuhan Yesus Kristus, dan kasih Allah, dan persekutuan Roh Kudus menyertai kamu sekalian” Bdk dgn Berkat Imam (Bilangan 6:24-26) 
Bilangan 6:24-26: 24: TUHAN memberkati engkau dan melindungi engkau; 25: TUHAN menyinari engkau dgn wajah-Nya dan memberi engkau kasih karunia; 26: TUHAN menghadapkan wajah-Nya kpdmu dan memberi engkau damai sejahtera.
I Petrus 1:2
I Yohanes 5: 7


Kamis, 08 Juni 2023

Roh Kudus keluar dari Bapa dan Anak

Pertanyaan Anda terkait dengan perbedaan pandangan mengenai prosesi Roh Kudus dalam Gereja Katolik Roma dan Gereja Ortodoks Timur. Perbedaan ini merupakan salah satu permasalahan teologis yang berkontribusi pada perpecahan antara Gereja Barat dan Gereja Timur pada abad ke-11. 

Dalam teologi Gereja Katolik Roma, doktrin mengenai prosesi Roh Kudus diajarkan dalam ajaran "Filioque" yang berarti "dan Anak". Dalam pemahaman ini, Roh Kudus dinyatakan keluar dari Bapa dan dari Anak. Filioque awalnya ditambahkan ke dalam Pengakuan Iman Nicea-Konstantinopel (Konstantinopel I) pada Abad ke-6 di Gereja Barat sebagai respons terhadap ajaran sesat mengenai Tritunggal.

Di sisi lain, Gereja Ortodoks Timur menolak penambahan Filioque ke dalam pengakuan iman tersebut. Mereka mengajarkan bahwa Roh Kudus hanya keluar dari Bapa (monoproses) dan tidak secara khusus keluar dari Anak. Pandangan ini didasarkan pada teologi yang diterima di gereja-gereja timur sejak awal, termasuk pemahaman mereka tentang ikon yang terkait dengan perspektif ikonik mengenai Allah Tritunggal.

Perbedaan ini menyebabkan ketegangan antara Gereja Barat dan Gereja Timur. Gereja Timur menegaskan bahwa Gereja Barat telah melanggar kesepakatan ekumenis sebelumnya dengan menambahkan Filioque tanpa konsultasi dan persetujuan Gereja Timur. Selain itu, Gereja Timur berpendapat bahwa penambahan ini melanggar keyakinan akan kesatuan Allah Tritunggal yang mereka anut.

Permasalahan Filioque bukanlah satu-satunya penyebab perpecahan antara Gereja Barat dan Gereja Timur, tetapi hal ini menjadi salah satu faktor penting yang memperdalam perpecahan teologis, politik, dan budaya antara kedua gereja. Hingga saat ini, Gereja Katolik Roma tetap menggunakan formulasi Filioque dalam pengakuannya, sementara Gereja Ortodoks Timur mempertahankan posisi mereka tentang prosesi Roh Kudus.

sejatah gereja

Berikut adalah gambaran umum tentang sejarah tokoh gereja dalam periode::

Sebelum Abad ke-6:
1. Rasul Paulus (5 SM - 67 M): Dikenal sebagai salah satu rasul utama dalam agama Kristen dan banyak menulis surat-surat dalam Perjanjian Baru.

 ada beberapa faktor penting pada abad ke-6 yang memainkan peran dalam perselisihan antara Gereja Barat dan Gereja Timur. Berikut adalah beberapa peristiwa yang relevan:

1. Kontroversi Monofisitisme: Pada abad ke-5, kontroversi teologis terjadi terkait natura Kristus. Salah satu kontroversi yang mencolok adalah perdebatan antara penganut Monofisitisme, yang berpendapat bahwa Kristus hanya memiliki satu sifat ilahi, dan penganut Chalcedonian, yang meyakini bahwa Kristus memiliki dua sifat, yaitu ilahi dan manusiawi. Perdebatan ini memicu ketegangan antara gereja-gereja di wilayah Barat dan Timur.

2. Kekaisaran Romawi yang Terpecah: Pada abad ke-6, Kekaisaran Romawi terpecah menjadi dua, yaitu Kekaisaran Romawi Barat dan Romawi Timur (dikenal sebagai Kekaisaran Bizantium). Kekaisaran Bizantium memiliki budaya, bahasa, dan praktik keagamaan yang berbeda dengan Kekaisaran Romawi Barat. Perbedaan ini juga berkontribusi pada perpecahan antara gereja-gereja di kedua wilayah.

3. Kontroversi Ikonomi: Pada abad ke-6, muncul perselisihan tentang penggunaan ikon dalam praktik keagamaan. Beberapa pemimpin gereja di Timur, seperti Kaisar Leo III dari Bizantium, menentang penggunaan ikon dan menganggapnya sebagai bentuk penyembahan berhala. Namun, gereja-gereja di Barat, terutama di bawah kepemimpinan Paus Gregorius II, mempertahankan penggunaan ikon sebagai bagian integral dari ibadah. Kontroversi ini mencerminkan perbedaan dalam pendekatan spiritual dan praktik keagamaan antara Gereja Barat dan Timur.

4. Peningkatan Sentralisasi Kepausan: Pada abad ke-6, posisi dan kekuasaan Paus di Gereja Barat semakin menguat. Paus mulai menggunakan kekuasaannya dalam urusan gerejawi dan politik, dan hal ini tidak diterima dengan baik oleh beberapa gereja dan tokoh gereja di Timur. Peningkatan sentralisasi kepausan dan klaim otoritasnya menjadi faktor yang memicu ketegangan antara kedua gereja.

Meskipun peristiwa-peristiwa ini tidak secara langsung menyebabkan pecahnya Gereja Katolik dengan Ortodoks, namun mereka merupakan faktor-faktor yang memperumit hubungan antara Gereja Barat dan Gereja Timur pada abad-abad selanjutnya, dan akhirnya berperan dalam perpecahan yang terjadi pada abad ke-11.

Abad ke-7 sampai 11:
1. Santo Agustinus dari Hippo (354 M - 430 M): Teolog dan filsuf berpengaruh yang mengembangkan teologi Kristen Barat dan menulis karya-karya seperti "Pengakuan-Pengakuan" dan "Kota Allah."
2. Santo Yohanes Krisostomus (347 M - 407 M): Pendeta dan penulis, diakui sebagai salah satu bapa Gereja awal dan dihormati karena khotbah-khotbahnya yang mengilhami.

Abad ke-12 sampai Abad ke-17:
1. Santo Fransiskus dari Assisi (1181/1182 M - 1226 M): Pendiri Ordo Fransiskan, yang menekankan kesederhanaan, kemiskinan, dan cinta kepada semua ciptaan Allah.
2. Santo Thomas Aquinas (1225 M - 1274 M): Teolog dan filsuf Katolik yang terkenal karena sumbangan besar dalam pemikiran Skolastik, terutama melalui karya monumentalnya "Summa Theologiae."
3. Martin Luther (1483 M - 1546 M): Pendeta dan reformator yang memainkan peran kunci dalam Reformasi Protestan, menentang praktik-praktik yang disalahgunakan dalam Gereja Katolik Roma pada zamannya.
4. Yohanes Calvin (1509 M - 1564 M): Teolog Reformasi Protestan yang membentuk aliran teologi Calvinisme dan berperan penting dalam pengembangan Gerakan Reformasi di Swiss.

Abad ke-17 sampai sekarang:
1. Santo Ignatius Loyola (1491 M - 1556 M): Pendiri Ordo Yesuit, salah satu ordo keagamaan Katolik yang paling berpengaruh.
2. Yohanes Wesley (1703 M - 1791 M): Pendeta Anglikan yang memimpin gerakan kebangunan rohani dan mendirikan Metodisme.
3. Paus Yohanes Paulus II (1920 M - 2005 M): Paus Katolik Roma dari tahun 1978 hingga 2005, yang dikenal karena perjalanan-penjelajahannya yang luas dan berperan dalam upaya rekonsiliasi antaragama.

Catatan: Daftar ini hanya memberikan gambaran singkat tentang beberapa tokoh gereja yang berpengaruh dalam masing-masing periode. Ada banyak tokoh lain yang memiliki peran penting dalam sejarah gereja, dan ini hanya mewakili beberapa contoh yang terkenal.

Perpecahan Utara-Selatan

Perpecahan antara Gereja Barat dan Gereja Timur, yang dikenal sebagai Perpecahan Utara-Selatan, terjadi pada abad ke-11 dan bukan pada abad ke-6. Namun, saya dapat menjelaskan perbedaan antara Gereja Barat (Gereja Katolik Roma) dan Gereja Timur (Gereja Ortodoks Timur) yang dapat menjadi faktor-faktor yang mempengaruhi perpecahan tersebut. Berikut adalah beberapa perbedaan utama:

1. Otoritas kepausan: Salah satu perbedaan utama adalah pandangan terhadap kepausan atau otoritas Paus Roma. Gereja Barat (Gereja Katolik Roma) mengakui kepausan Paus sebagai otoritas tertinggi dalam Gereja dan menganggap Paus sebagai pewaris Petrus yang memiliki kekuasaan atas seluruh umat Kristen. Di sisi lain, Gereja Timur (Gereja Ortodoks Timur) tidak mengakui kepausan dalam bentuk yang sama. Mereka menganggap Uskup Roma (Paus) sebagai primus inter pares, yaitu primat di antara para uskup tetapi tidak memiliki otoritas absolut.

2. Teologi dan doktrin: Terdapat beberapa perbedaan teologis antara kedua gereja tersebut. Gereja Barat memiliki pengaruh yang lebih besar dari filsafat Barat dan menggunakan logika skolastik dalam pengembangan teologinya. Gereja Katolik Roma mengembangkan konsep teologi penyelamatan yang dikenal sebagai "doktrin anugrah" (doctrine of grace) dan menggunakan istilah "doktrin dosa asal" (doctrine of original sin). Di sisi lain, Gereja Timur lebih mengutamakan teologi mistik dan menggunakan bahasa yang lebih simbolis dalam pengajaran agamanya.

3. Bahasa liturgi: Gereja Barat menggunakan bahasa Latin sebagai bahasa liturgi utama mereka. Sebelum Reformasi, ketika bahasa Latin menjadi bahasa yang kurang dipahami oleh banyak orang, Gereja Katolik Roma tetap mempertahankan penggunaan bahasa Latin. Di Gereja Timur, berbagai ritus yang berbeda menggunakan bahasa-bahasa setempat, seperti Bahasa Yunani (dalam Gereja Ortodoks Yunani), Bahasa Slavia Gereja (dalam Gereja Ortodoks Rusia), dan lainnya.

4. Penekanan dalam ibadah: Gereja Barat cenderung menekankan penggunaan simbol fisik dalam ibadah mereka, seperti salib, patung, dan lukisan-lukisan religius. Gereja Katolik Roma juga mengakui adanya doktrin tentang "transubstansiasi" dalam Ekaristi, yang berarti roti dan anggur diubah secara substansial menjadi tubuh dan darah Yesus Kristus. Di sisi lain, Gereja Timur memiliki penekanan yang lebih besar pada ibadah liturgis yang berfokus pada keindahan dan kekudusan dengan penggunaan banyak nyanyian dan pujian.

5. Struktur gerejawi: Gereja Barat memiliki struktur hierarkis yang kuat dengan tahta pusat di Roma, di mana Paus

 adalah otoritas tertinggi. Gereja Timur memiliki sistem gerejawi yang lebih federal, dengan beberapa patriarkat yang independen dan memiliki otoritas sendiri. Gereja Ortodoks Timur juga memiliki Konsili Gereja yang terdiri dari para uskup, di mana keputusan penting dibuat secara kolektif.

Perpecahan Utara-Selatan yang sebenarnya terjadi pada abad ke-11 melibatkan banyak faktor, termasuk perbedaan-perbedaan ini dan isu-isu politik serta budaya.

Konsili Chalcedon

Konsili Chalcedon, yang diselenggarakan pada tahun 451 Masehi di Chalcedon (sekarang Kadiköy, Istanbul), adalah salah satu konsili ekumenis yang paling penting dalam sejarah gereja Kristen. Konsili ini dihadiri oleh lebih dari 500 uskup dari Timur dan Barat, dan tujuannya adalah untuk menyelesaikan kontroversi dottrin mengenai kodrat Kristus.

Konsili Chalcedon berfokus pada sifat-sifat dan kodrat Kristus. Terdapat perselisihan pendapat di antara kelompok-kelompok gereja pada saat itu mengenai hubungan antara kodrat manusia dan kodrat ilahi dalam diri Kristus. Dua pandangan utama yang berselisih adalah:

1. Pandangan Cyrillian: Dipimpin oleh Santo Kyril dari Aleksandria, pandangan ini menekankan kesatuan yang kuat antara kodrat ilahi dan kodrat manusia dalam diri Kristus. Mereka berpendapat bahwa Kristus memiliki satu kodrat atau hakekat yang merupakan perpaduan sempurna antara kodrat ilahi dan manusia. Pandangan ini dikenal sebagai monofisitisme.

2. Pandangan Antiochian: Dipimpin oleh uskup-uskup dari wilayah Antioch, pandangan ini menekankan pemisahan yang tegas antara kodrat ilahi dan kodrat manusia dalam diri Kristus. Mereka berpendapat bahwa kodrat ilahi dan kodrat manusia dalam Kristus tidak melebur menjadi satu, tetapi tetap terpisah secara jelas. Pandangan ini dikenal sebagai dyofisitisme.

Dalam Konsili Chalcedon, diputuskan bahwa pandangan Cyrillian dari monofisitisme dan pandangan Antiochian dari dyofisitisme keduanya tidak akurat dan tidak sesuai dengan keyakinan gereja. Sebagai hasilnya, Konsili Chalcedon merumuskan rumusan yang dikenal sebagai "Definisi Chalcedon", yang menyatakan bahwa Kristus memiliki dua kodrat dalam satu pribadi (hypostasis), yaitu kodrat ilahi dan kodrat manusia yang terpisah tetapi tidak tercampur, tidak berubah, dan tidak terpisah satu sama lain.

Definisi Chalcedon menyatakan bahwa Kristus adalah "sempurna dalam kodrat ilahi, sempurna pula dalam kodrat manusia; sesungguhnya Allah yang sungguh-sungguh, dan sungguh-sungguh manusia yang sempurna, yang memiliki kodrat ilahi dan kodrat manusia dengan sempurna." Pernyataan ini menghasilkan doktrin gereja yang dikenal sebagai "Kristus Dua Kodrat (Chalcedonian Christology)".

Konsili Chalcedon juga membahas masalah gerejawi lainnya, termasuk pengaturan hierarki gereja dan hak-hak otonomi patriark-patriark gereja. Keputusan-keputusan yang diambil dalam Konsili Chalcedon menjadi landasan iman bagi gereja-gereja Kristen Ortodoks Timur dan Katolik Roma hingga saat ini.

tokoh Konsili Nicea

Konsili Nicea melibatkan para uskup dan tokoh gereja terkemuka pada masanya, terutama dari wilayah Romawi Timur. Mayoritas tokoh yang dihadiri oleh Konsili Nicea adalah uskup-uskup dari berbagai wilayah gereja di Kekaisaran Romawi.

Namun, terdapat beberapa tokoh penting yang memengaruhi pemikiran dan teologi yang diperdebatkan dalam Konsili Nicea, dan mereka memiliki hubungan dengan murid-murid Yohanes. Beberapa di antaranya adalah:

1. Santo Atanasius (296–373): Atanasius, yang kemudian menjadi Uskup Aleksandria, adalah salah satu pendukung utama doktrin Trinitas dan musuh utama ajaran Arianisme yang menjadi kontroversi pada waktu itu. Ia dianggap sebagai penjaga utama iman Nicea dan memainkan peran penting dalam membela keyakinan bahwa Yesus adalah sama esensinya dengan Allah Bapa.

2. Eusebius dari Kaisarea (260–339): Eusebius adalah sejarawan gereja yang terkenal dan merupakan Uskup Kaisarea pada saat itu. Meskipun ia memiliki pandangan yang berbeda mengenai ajaran Trinitas, Eusebius menjadi salah satu peserta utama dalam Konsili Nicea dan ikut menandatangani Konstitusi Nicea.

Kedua tokoh ini memiliki pengaruh signifikan dalam Konsili Nicea, meskipun mereka bukan langsung dari kelompok murid-murid Yohanes. Konsili Nicea melibatkan banyak uskup dan tokoh gereja lainnya yang mewakili berbagai wilayah gereja pada saat itu.

tokoh sebelum konsili nicea

Berikut adalah beberapa tokoh terkenal yang terkait dengan murid Yohanes dan periode sebelum Konsili Nicea:

1. Santo Ignatius dari Antiokhia († sekitar tahun 108): Ignatius adalah Uskup Antiokhia yang dianggap sebagai murid langsung dari Rasul Yohanes. Ia menjadi martir dan meninggalkan surat-surat yang memberikan pandangan tentang doktrin dan struktur gereja pada masanya.

2. Santo Polikarpus dari Smirna († sekitar tahun 155): Polikarpus adalah uskup dan martir yang juga dianggap sebagai murid langsung dari Rasul Yohanes. Ia dikenal karena kesetiaannya pada iman dan surat-suratnya yang masih ada hingga saat ini.

3. Santo Ireneus dari Lyon († sekitar tahun 202): Ireneus adalah seorang teolog awal yang dilahirkan di Asia Kecil dan dianggap sebagai murid langsung dari Polikarpus. Ia berjuang melawan bidah dan menulis karya-karya penting dalam membela iman dan otoritas gereja.

4. Origenes (185–254): Origenes adalah seorang teolog dan filsuf Kristen yang berperan dalam mengembangkan teologi dan pemikiran Kristen pada masa itu. Meskipun bukan murid langsung Yohanes, ia merupakan salah satu tokoh yang dipengaruhi oleh ajaran-ajaran murid-murid Yohanes.

5. Tertulianus (155–240): Tertulianus adalah seorang penulis dan teolog awal yang penting dalam perkembangan teologi dan apologetika Kristen. Ia dianggap sebagai salah satu tokoh berpengaruh pada zamannya dan memberikan sumbangan penting bagi pemikiran Kristen.

Periode ini mencakup beberapa tokoh lainnya yang memiliki pengaruh dalam pengembangan doktrin dan praktek gereja Kristen pada saat itu. Namun, ini hanya sebagian kecil dari tokoh-tokoh yang terkait dengan murid Yohanes dan periode sebelum Konsili Nicea.

doktrin Sabelius

Konsili Nicea dan Konsili Konstantinopel memiliki pengaruh terhadap pandangan terhadap Sabelianisme atau doktrin Sabelius.Sabelianisme adalah ajaran yang dikembangkan oleh Sabelius, seorang teolog abad ke-3 Masehi, yang menyatakan bahwa Allah adalah satu dan bertindak dalam tiga mode atau manifestasi yang berbeda, yaitu sebagai Allah Bapa, Allah Putra (Yesus Kristus), dan Allah Roh Kudus. Dalam pandangan Sabelius, ketiga pribadi Tritunggal hanya merupakan cara yang berbeda dari manifestasi Tuhan yang sama.Namun, pandangan Sabelianisme ini ditentang dan dianggap bertentangan dengan ajaran yang dihasilkan dari Konsili Nicea dan Konsili Konstantinopel. Konsili-konsili tersebut menegaskan ajaran Tritunggal yang mengajarkan bahwa Allah adalah satu dalam tiga pribadi yang sejajar dan memiliki esensi yang sama. Kredo Nicea dan Kredo Nicea-Konstantinopel, yang dihasilkan dari konsili-konsili tersebut, menegaskan eksistensi pribadi-pribadi yang berbeda dalam Tritunggal (Allah Bapa, Yesus Kristus, dan Roh Kudus), tetapi juga menyatakan bahwa mereka memiliki esensi yang sama.Dalam menghadapi Sabelianisme, Konsili-konsili tersebut menyatakan bahwa Allah Bapa, Yesus Kristus, dan Roh Kudus bukan hanya mode manifestasi yang berbeda dari Tuhan yang sama, tetapi merupakan pribadi-pribadi yang berbeda namun memiliki persatuan yang tidak terpisahkan dalam keesaan Allah.Akibatnya, ajaran Sabelianisme dianggap sesat oleh gereja-gereja yang menganut keyakinan yang dihasilkan dari Konsili Nicea dan Konsili Konstantinopel. Gereja-gereja tersebut menganggap Sabelianisme sebagai penyalahgunaan dan penyimpangan dari pengertian yang benar tentang Tritunggal dan hakikat Allah yang diajarkan dalam Kitab Suci dan diakui dalam kredo-kredo gerejawi.

Kredo Nicea. Konstantinopel dan Pengakuan Iman Rasuli

Berikut adalah dua versi kredo yang dihasilkan oleh Konsili Nicea dan Konsili Konstantinopel:

1. Kredo Nicea:
"Aku percaya kepada Allah Bapa Yang Maha Kuasa,
Pencipta langit dan bumi, yang kasatmata dan tak kasatmata.
Dan kepada Yesus Kristus, Anak-Nya yang tunggal, Tuhan kita,
yang dikandung oleh Roh Kudus, lahir dari Maria Perawan,
menderita di bawah Pontius Pilatus, disalibkan, mati dan dikuburkan,
turun ke dalam alam maut, pada hari yang ketiga bangkit pula dari antara orang mati,
naik ke sorga, duduk di sebelah kanan Allah Bapa Yang Maha Kuasa,
dan dari sana Ia akan datang untuk menghakimi orang hidup dan mati.
Aku percaya kepada Roh Kudus.
Aku percaya kepada Gereja yang kudus, umat yang kudus,
pengampunan dosa, kebangkitan tubuh dan hidup yang kekal."

2. Kredo Nicea-Konstantinopel:
"Aku percaya kepada Allah Bapa Yang Maha Kuasa,
Pencipta langit dan bumi,
dan segala sesuatu yang terlihat dan tak terlihat.
Aku percaya kepada satu Tuhan Yesus Kristus,
Anak Allah yang tunggal, yang dilahirkan dari Bapa sebelum segala abad,
cahaya dari cahaya, Allah sejati dari Allah sejati,
dikandung, bukan dijadikan, yang sejajar dengan Bapa,
melalui Dia segala sesuatu dijadikan.
Dalam hal kami, manusia, dan karena keselamatan kami,
Ia turun dari surga,
menjadi daging oleh pekabaran Roh Kudus dari Maria Perawan,
dan menjadi manusia.
Ia disalibkan bagi kami di bawah Pontius Pilatus,
menderita dan dikuburkan.
Ia bangkit pada hari yang ketiga, sesuai dengan Kitab Suci.
Ia naik ke sorga dan duduk di sebelah kanan Bapa.
Ia akan datang kembali dengan mulia untuk menghakimi orang hidup dan mati,
dan kerajaan-Nya tidak akan berkesudahan.
Aku percaya kepada Roh Kudus, Tuhan dan pemberi kehidupan,
yang datang dari Bapa dan Anak.
Dengan Bapa dan Anak Ia bersama-sama dipuja dan dimuliakan;
Ia yang berbicara melalui nabi-nabi.
Aku percaya kepada Gereja yang satu, kudus, katolik, dan apostolik.
Aku mengakui satu baptisan untuk pengampunan dosa.
Aku menantikan kebangkitan orang mati dan hidup yang kekal.
Amin."

Kedua kredo ini mengandung keyakinan dasar iman Kristen yang diakui oleh banyak denominasi Kristen.

Kredo Pengakuan Iman Rasuli, yang juga dikenal sebagai Kredo Rasuli atau Kredo Apostolik, adalah kredo yang lebih singkat dan lebih awal dalam sejarah gereja daripada Kredo Nicea dan Kredo Nicea-Konstantinopel. Berikut ini adalah teks dari Kredo Pengakuan Iman Rasuli:

"Aku percaya kepada Allah Bapa Yang Mahakuasa, Pencipta langit dan bumi.
Dan kepada Yesus Kristus, Anak-Nya yang tunggal, Tuhan kita,
yang dikandung oleh Roh Kudus, lahir dari Maria Perawan,
menderita di bawah Pontius Pilatus, disalibkan, mati dan dikuburkan,
turun ke dalam alam maut, pada hari yang ketiga bangkit pula dari antara orang mati,
naik ke sorga, duduk di sebelah kanan Allah Bapa Yang Mahakuasa,
dari sana Ia akan datang untuk menghakimi orang hidup dan mati.
Aku percaya kepada Roh Kudus,
gereja yang kudus,
pengampunan dosa,
kebangkitan tubuh,
dan hidup yang kekal. Amin."

Perbedaan utama antara Kredo Pengakuan Iman Rasuli dengan Kredo Nicea dan Kredo Nicea-Konstantinopel adalah panjangnya dan detailnya. Kredo Pengakuan Iman Rasuli lebih singkat dan terdiri dari pernyataan-pernyataan inti yang mencakup keyakinan dasar iman Kristen. Sementara itu, Kredo Nicea dan Kredo Nicea-Konstantinopel lebih panjang dan lebih rinci dalam menjelaskan aspek-aspek doktrinal yang lebih spesifik, seperti Tritunggal, inkarnasi Yesus Kristus, dan peran Roh Kudus.

Kredo Nicea dan Kredo Nicea-Konstantinopel juga merupakan pengembangan dari Kredo Pengakuan Iman Rasuli, yang mencakup perluasan dan penegasan doktrin-doktrin tertentu yang menjadi perdebatan pada masanya. Karena itu, Kredo Nicea dan Kredo Nicea-Konstantinopel lebih lengkap dan menyeluruh dalam merangkum keyakinan dan doktrin iman Kristen.

Hasil dari Konsili Konstantinopel

Konsili Konstantinopel diadakan pada tahun 381 Masehi di Konstantinopel (sekarang Istanbul, Turki). Konsili ini menghasilkan beberapa hasil penting:

1. Penegasan Doktrin Tritunggal: Konsili Konstantinopel menguatkan dan memperdalam doktrin Tritunggal, yaitu keyakinan bahwa Allah adalah satu dalam tiga pribadi yaitu Allah Bapa, Yesus Kristus, dan Roh Kudus. Konsili ini menegaskan bahwa Roh Kudus juga memiliki esensi yang sama dengan Allah Bapa dan Yesus Kristus.

2. Penyusunan Kredo Nicea-Konstantinopel: Konsili Konstantinopel memperluas dan memodifikasi Kredo Nicea yang telah disusun pada Konsili Nicea tahun 325 Masehi. Kredo Nicea-Konstantinopel menjadi salah satu ringkasan utama keyakinan iman Kristen. Kredo ini menjadi dasar iman ortodoks dan banyak denominasi Kristen lainnya. Kredo ini diterima secara luas sebagai pernyataan iman Kristen yang sah.

3. Pengakuan Patriarkat Konstantinopel: Konsili Konstantinopel memberikan pengakuan resmi kepada gereja di Konstantinopel sebagai patriarkat kedua setelah Roma. Hal ini memperkuat posisi gereja Konstantinopel sebagai pusat keagamaan dan politik di Kekaisaran Romawi Timur. Gereja di Konstantinopel memperoleh kekuasaan dan kehormatan yang lebih besar dalam struktur gereja.

4. Pembatasan kekuasaan Alexandria dan Antiokhia: Konsili ini juga membatasi kekuasaan gereja-gereja Alexandria dan Antiokhia. Gereja di Alexandria kehilangan wilayah keuskupannya di wilayah Mesir dan Libya, sementara gereja di Antiokhia kehilangan wilayahnya di wilayah Asia Kecil.

Hasil dari Konsili Konstantinopel berdampak luas dalam sejarah gereja Kristen. Kredo Nicea-Konstantinopel menjadi salah satu dasar utama dari keyakinan Kristen dan mempengaruhi perkembangan doktrin gereja. Selain itu, penegasan posisi Konstantinopel sebagai patriarkat kedua memberikan pengaruh yang signifikan terhadap hierarki gereja dan struktur keagamaan di Bizantium dan Kekaisaran Romawi Timur.

Konsili Nicea dan Konsili Konstantinopel

Konsili Nicea dan Konsili Konstantinopel adalah dua konsili ekumenis yang penting dalam sejarah gereja Kristen. Meskipun keduanya diadakan dalam konteks sejarah dan peristiwa yang terkait, mereka memiliki beberapa perbedaan penting:

1. Konteks dan Tanggal: Konsili Nicea diadakan pada tahun 325 Masehi di Nicea (sekarang İznik, Turki), sementara Konsili Konstantinopel diadakan pada tahun 381 Masehi di Konstantinopel (sekarang Istanbul, Turki).

2. Fokus Doktrin: Konsili Nicea difokuskan pada isu-isu keesaan Allah dan hubungan antara Yesus Kristus dan Allah Bapa. Salah satu isu utama yang dibahas adalah ajaran Arius, yang menyatakan bahwa Yesus Kristus adalah ciptaan Allah dan bukan sama esensinya dengan Allah Bapa. Konsili Nicea menghasilkan penyusunan Kredo Nicea, yang menyatakan bahwa Yesus adalah "Allah dari Allah, cahaya dari cahaya, Allah yang benar dari Allah yang benar, yang dikandung, bukan dijadikan, sama esensinya dengan Bapa."

Konsili Konstantinopel, di sisi lain, memperdalam diskusi tentang Tritunggal dan berfokus pada pengembangan konsep Roh Kudus. Konsili ini menegaskan bahwa Roh Kudus juga memiliki esensi yang sama dengan Allah Bapa dan Yesus Kristus dalam Tritunggal. Kredo Nicea diperluas menjadi Kredo Nicea-Konstantinopel, yang menjadi salah satu ringkasan utama dari keyakinan iman Kristen.

3. Penegasan Status Gereja: Konsili Konstantinopel juga menguatkan status gereja di Konstantinopel sebagai patriarkat kedua setelah Roma. Hal ini memperkuat posisi gereja Konstantinopel sebagai pusat keagamaan dan politik di Kekaisaran Romawi Timur.

4. Dampak dan Pengaruh: Konsili Nicea dan Konsili Konstantinopel berdampak besar dalam membentuk keyakinan dan doktrin Kristen. Kredo-kredo yang dihasilkan oleh kedua konsili ini menjadi dasar iman ortodoks dan banyak denominasi Kristen lainnya. Konsili Konstantinopel juga memainkan peran penting dalam membentuk hierarki gereja dan struktur keagamaan di Bizantium dan Kekaisaran Romawi Timur.

Meskipun demikian, perbedaan-perbedaan ini tidak bermaksud untuk mengabaikan kesinambungan dan keterkaitan antara kedua konsili ini dalam sejarah Kristen. Keduanya merupakan tonggak penting dalam pembentukan dan perkembangan doktrin gereja Kristen awal.

Arianus

Paham Arianus adalah pandangan teologis yang dipimpin oleh Arius, seorang pendeta di Aleksandria pada abad ke-4. Paham ini menyatakan bahwa Yesus Kristus adalah makhluk ciptaan Allah, dan bukan Allah yang sama dengan Allah Bapa dalam substansi atau hakikat-Nya. Menurut paham Arianus, Yesus Kristus dianggap sebagai makhluk tertinggi dan mulia, tetapi tidak setara dengan Allah Bapa.

Paham Arianus menjadi sangat berpengaruh pada masa itu dan memicu perdebatan yang intens antara pendukung dan penentangnya. Hal ini mengakibatkan perpecahan dalam Gereja pada saat itu, dan perselisihan ini berperan penting dalam penyelesaian masalah teologis dan perumusan keyakinan akan Tritunggal.

Konsili Nicea pada tahun 325 Masehi, yang telah disebutkan sebelumnya, secara khusus diselenggarakan untuk menanggapi ajaran Arius. Konsili tersebut menolak pandangan Arianus dan menegaskan ajaran keesaan Allah dan kesetaraan Allah Bapa dan Yesus Kristus dalam substansi atau hakikat. Kredo Nicea yang dihasilkan dari konsili ini menegaskan ajaran Tritunggal dan keyakinan akan keesaan Allah dalam tiga pribadi yang sama dan setara.

Pada abad berikutnya, perdebatan tentang paham Arianus dan Trinitas berlanjut. Paham Arianus masih memiliki pengikutnya, dan diperlukan usaha lebih lanjut dari para teolog dan konsili gerejawi untuk menegakkan keyakinan akan Tritunggal dan menentang pandangan Arianus. Konsili-konsili selanjutnya seperti Konsili Konstantinopel pada tahun 381 Masehi memberikan klarifikasi dan pengembangan lebih lanjut mengenai ajaran Tritunggal.

Sebagai akibat dari perdebatan ini, keyakinan akan Tritunggal menjadi lebih jelas dan kokoh dalam teologi Kristen dan menjadi ajaran sentral yang diterima oleh mayoritas gereja-gereja Kristen.

Konsep Kenosis (pengosongan diri)

Konsep Kenosis (pengosongan diri) merujuk pada ajaran bahwa Yesus, dalam kehidupan-Nya sebagai manusia, secara sukarela mengosongkan diri-Ny...