Kamis, 08 Juni 2023

Roh Kudus keluar dari Bapa dan Anak

Pertanyaan Anda terkait dengan perbedaan pandangan mengenai prosesi Roh Kudus dalam Gereja Katolik Roma dan Gereja Ortodoks Timur. Perbedaan ini merupakan salah satu permasalahan teologis yang berkontribusi pada perpecahan antara Gereja Barat dan Gereja Timur pada abad ke-11. 

Dalam teologi Gereja Katolik Roma, doktrin mengenai prosesi Roh Kudus diajarkan dalam ajaran "Filioque" yang berarti "dan Anak". Dalam pemahaman ini, Roh Kudus dinyatakan keluar dari Bapa dan dari Anak. Filioque awalnya ditambahkan ke dalam Pengakuan Iman Nicea-Konstantinopel (Konstantinopel I) pada Abad ke-6 di Gereja Barat sebagai respons terhadap ajaran sesat mengenai Tritunggal.

Di sisi lain, Gereja Ortodoks Timur menolak penambahan Filioque ke dalam pengakuan iman tersebut. Mereka mengajarkan bahwa Roh Kudus hanya keluar dari Bapa (monoproses) dan tidak secara khusus keluar dari Anak. Pandangan ini didasarkan pada teologi yang diterima di gereja-gereja timur sejak awal, termasuk pemahaman mereka tentang ikon yang terkait dengan perspektif ikonik mengenai Allah Tritunggal.

Perbedaan ini menyebabkan ketegangan antara Gereja Barat dan Gereja Timur. Gereja Timur menegaskan bahwa Gereja Barat telah melanggar kesepakatan ekumenis sebelumnya dengan menambahkan Filioque tanpa konsultasi dan persetujuan Gereja Timur. Selain itu, Gereja Timur berpendapat bahwa penambahan ini melanggar keyakinan akan kesatuan Allah Tritunggal yang mereka anut.

Permasalahan Filioque bukanlah satu-satunya penyebab perpecahan antara Gereja Barat dan Gereja Timur, tetapi hal ini menjadi salah satu faktor penting yang memperdalam perpecahan teologis, politik, dan budaya antara kedua gereja. Hingga saat ini, Gereja Katolik Roma tetap menggunakan formulasi Filioque dalam pengakuannya, sementara Gereja Ortodoks Timur mempertahankan posisi mereka tentang prosesi Roh Kudus.

sejatah gereja

Berikut adalah gambaran umum tentang sejarah tokoh gereja dalam periode::

Sebelum Abad ke-6:
1. Rasul Paulus (5 SM - 67 M): Dikenal sebagai salah satu rasul utama dalam agama Kristen dan banyak menulis surat-surat dalam Perjanjian Baru.

 ada beberapa faktor penting pada abad ke-6 yang memainkan peran dalam perselisihan antara Gereja Barat dan Gereja Timur. Berikut adalah beberapa peristiwa yang relevan:

1. Kontroversi Monofisitisme: Pada abad ke-5, kontroversi teologis terjadi terkait natura Kristus. Salah satu kontroversi yang mencolok adalah perdebatan antara penganut Monofisitisme, yang berpendapat bahwa Kristus hanya memiliki satu sifat ilahi, dan penganut Chalcedonian, yang meyakini bahwa Kristus memiliki dua sifat, yaitu ilahi dan manusiawi. Perdebatan ini memicu ketegangan antara gereja-gereja di wilayah Barat dan Timur.

2. Kekaisaran Romawi yang Terpecah: Pada abad ke-6, Kekaisaran Romawi terpecah menjadi dua, yaitu Kekaisaran Romawi Barat dan Romawi Timur (dikenal sebagai Kekaisaran Bizantium). Kekaisaran Bizantium memiliki budaya, bahasa, dan praktik keagamaan yang berbeda dengan Kekaisaran Romawi Barat. Perbedaan ini juga berkontribusi pada perpecahan antara gereja-gereja di kedua wilayah.

3. Kontroversi Ikonomi: Pada abad ke-6, muncul perselisihan tentang penggunaan ikon dalam praktik keagamaan. Beberapa pemimpin gereja di Timur, seperti Kaisar Leo III dari Bizantium, menentang penggunaan ikon dan menganggapnya sebagai bentuk penyembahan berhala. Namun, gereja-gereja di Barat, terutama di bawah kepemimpinan Paus Gregorius II, mempertahankan penggunaan ikon sebagai bagian integral dari ibadah. Kontroversi ini mencerminkan perbedaan dalam pendekatan spiritual dan praktik keagamaan antara Gereja Barat dan Timur.

4. Peningkatan Sentralisasi Kepausan: Pada abad ke-6, posisi dan kekuasaan Paus di Gereja Barat semakin menguat. Paus mulai menggunakan kekuasaannya dalam urusan gerejawi dan politik, dan hal ini tidak diterima dengan baik oleh beberapa gereja dan tokoh gereja di Timur. Peningkatan sentralisasi kepausan dan klaim otoritasnya menjadi faktor yang memicu ketegangan antara kedua gereja.

Meskipun peristiwa-peristiwa ini tidak secara langsung menyebabkan pecahnya Gereja Katolik dengan Ortodoks, namun mereka merupakan faktor-faktor yang memperumit hubungan antara Gereja Barat dan Gereja Timur pada abad-abad selanjutnya, dan akhirnya berperan dalam perpecahan yang terjadi pada abad ke-11.

Abad ke-7 sampai 11:
1. Santo Agustinus dari Hippo (354 M - 430 M): Teolog dan filsuf berpengaruh yang mengembangkan teologi Kristen Barat dan menulis karya-karya seperti "Pengakuan-Pengakuan" dan "Kota Allah."
2. Santo Yohanes Krisostomus (347 M - 407 M): Pendeta dan penulis, diakui sebagai salah satu bapa Gereja awal dan dihormati karena khotbah-khotbahnya yang mengilhami.

Abad ke-12 sampai Abad ke-17:
1. Santo Fransiskus dari Assisi (1181/1182 M - 1226 M): Pendiri Ordo Fransiskan, yang menekankan kesederhanaan, kemiskinan, dan cinta kepada semua ciptaan Allah.
2. Santo Thomas Aquinas (1225 M - 1274 M): Teolog dan filsuf Katolik yang terkenal karena sumbangan besar dalam pemikiran Skolastik, terutama melalui karya monumentalnya "Summa Theologiae."
3. Martin Luther (1483 M - 1546 M): Pendeta dan reformator yang memainkan peran kunci dalam Reformasi Protestan, menentang praktik-praktik yang disalahgunakan dalam Gereja Katolik Roma pada zamannya.
4. Yohanes Calvin (1509 M - 1564 M): Teolog Reformasi Protestan yang membentuk aliran teologi Calvinisme dan berperan penting dalam pengembangan Gerakan Reformasi di Swiss.

Abad ke-17 sampai sekarang:
1. Santo Ignatius Loyola (1491 M - 1556 M): Pendiri Ordo Yesuit, salah satu ordo keagamaan Katolik yang paling berpengaruh.
2. Yohanes Wesley (1703 M - 1791 M): Pendeta Anglikan yang memimpin gerakan kebangunan rohani dan mendirikan Metodisme.
3. Paus Yohanes Paulus II (1920 M - 2005 M): Paus Katolik Roma dari tahun 1978 hingga 2005, yang dikenal karena perjalanan-penjelajahannya yang luas dan berperan dalam upaya rekonsiliasi antaragama.

Catatan: Daftar ini hanya memberikan gambaran singkat tentang beberapa tokoh gereja yang berpengaruh dalam masing-masing periode. Ada banyak tokoh lain yang memiliki peran penting dalam sejarah gereja, dan ini hanya mewakili beberapa contoh yang terkenal.

Perpecahan Utara-Selatan

Perpecahan antara Gereja Barat dan Gereja Timur, yang dikenal sebagai Perpecahan Utara-Selatan, terjadi pada abad ke-11 dan bukan pada abad ke-6. Namun, saya dapat menjelaskan perbedaan antara Gereja Barat (Gereja Katolik Roma) dan Gereja Timur (Gereja Ortodoks Timur) yang dapat menjadi faktor-faktor yang mempengaruhi perpecahan tersebut. Berikut adalah beberapa perbedaan utama:

1. Otoritas kepausan: Salah satu perbedaan utama adalah pandangan terhadap kepausan atau otoritas Paus Roma. Gereja Barat (Gereja Katolik Roma) mengakui kepausan Paus sebagai otoritas tertinggi dalam Gereja dan menganggap Paus sebagai pewaris Petrus yang memiliki kekuasaan atas seluruh umat Kristen. Di sisi lain, Gereja Timur (Gereja Ortodoks Timur) tidak mengakui kepausan dalam bentuk yang sama. Mereka menganggap Uskup Roma (Paus) sebagai primus inter pares, yaitu primat di antara para uskup tetapi tidak memiliki otoritas absolut.

2. Teologi dan doktrin: Terdapat beberapa perbedaan teologis antara kedua gereja tersebut. Gereja Barat memiliki pengaruh yang lebih besar dari filsafat Barat dan menggunakan logika skolastik dalam pengembangan teologinya. Gereja Katolik Roma mengembangkan konsep teologi penyelamatan yang dikenal sebagai "doktrin anugrah" (doctrine of grace) dan menggunakan istilah "doktrin dosa asal" (doctrine of original sin). Di sisi lain, Gereja Timur lebih mengutamakan teologi mistik dan menggunakan bahasa yang lebih simbolis dalam pengajaran agamanya.

3. Bahasa liturgi: Gereja Barat menggunakan bahasa Latin sebagai bahasa liturgi utama mereka. Sebelum Reformasi, ketika bahasa Latin menjadi bahasa yang kurang dipahami oleh banyak orang, Gereja Katolik Roma tetap mempertahankan penggunaan bahasa Latin. Di Gereja Timur, berbagai ritus yang berbeda menggunakan bahasa-bahasa setempat, seperti Bahasa Yunani (dalam Gereja Ortodoks Yunani), Bahasa Slavia Gereja (dalam Gereja Ortodoks Rusia), dan lainnya.

4. Penekanan dalam ibadah: Gereja Barat cenderung menekankan penggunaan simbol fisik dalam ibadah mereka, seperti salib, patung, dan lukisan-lukisan religius. Gereja Katolik Roma juga mengakui adanya doktrin tentang "transubstansiasi" dalam Ekaristi, yang berarti roti dan anggur diubah secara substansial menjadi tubuh dan darah Yesus Kristus. Di sisi lain, Gereja Timur memiliki penekanan yang lebih besar pada ibadah liturgis yang berfokus pada keindahan dan kekudusan dengan penggunaan banyak nyanyian dan pujian.

5. Struktur gerejawi: Gereja Barat memiliki struktur hierarkis yang kuat dengan tahta pusat di Roma, di mana Paus

 adalah otoritas tertinggi. Gereja Timur memiliki sistem gerejawi yang lebih federal, dengan beberapa patriarkat yang independen dan memiliki otoritas sendiri. Gereja Ortodoks Timur juga memiliki Konsili Gereja yang terdiri dari para uskup, di mana keputusan penting dibuat secara kolektif.

Perpecahan Utara-Selatan yang sebenarnya terjadi pada abad ke-11 melibatkan banyak faktor, termasuk perbedaan-perbedaan ini dan isu-isu politik serta budaya.

Konsili Chalcedon

Konsili Chalcedon, yang diselenggarakan pada tahun 451 Masehi di Chalcedon (sekarang Kadiköy, Istanbul), adalah salah satu konsili ekumenis yang paling penting dalam sejarah gereja Kristen. Konsili ini dihadiri oleh lebih dari 500 uskup dari Timur dan Barat, dan tujuannya adalah untuk menyelesaikan kontroversi dottrin mengenai kodrat Kristus.

Konsili Chalcedon berfokus pada sifat-sifat dan kodrat Kristus. Terdapat perselisihan pendapat di antara kelompok-kelompok gereja pada saat itu mengenai hubungan antara kodrat manusia dan kodrat ilahi dalam diri Kristus. Dua pandangan utama yang berselisih adalah:

1. Pandangan Cyrillian: Dipimpin oleh Santo Kyril dari Aleksandria, pandangan ini menekankan kesatuan yang kuat antara kodrat ilahi dan kodrat manusia dalam diri Kristus. Mereka berpendapat bahwa Kristus memiliki satu kodrat atau hakekat yang merupakan perpaduan sempurna antara kodrat ilahi dan manusia. Pandangan ini dikenal sebagai monofisitisme.

2. Pandangan Antiochian: Dipimpin oleh uskup-uskup dari wilayah Antioch, pandangan ini menekankan pemisahan yang tegas antara kodrat ilahi dan kodrat manusia dalam diri Kristus. Mereka berpendapat bahwa kodrat ilahi dan kodrat manusia dalam Kristus tidak melebur menjadi satu, tetapi tetap terpisah secara jelas. Pandangan ini dikenal sebagai dyofisitisme.

Dalam Konsili Chalcedon, diputuskan bahwa pandangan Cyrillian dari monofisitisme dan pandangan Antiochian dari dyofisitisme keduanya tidak akurat dan tidak sesuai dengan keyakinan gereja. Sebagai hasilnya, Konsili Chalcedon merumuskan rumusan yang dikenal sebagai "Definisi Chalcedon", yang menyatakan bahwa Kristus memiliki dua kodrat dalam satu pribadi (hypostasis), yaitu kodrat ilahi dan kodrat manusia yang terpisah tetapi tidak tercampur, tidak berubah, dan tidak terpisah satu sama lain.

Definisi Chalcedon menyatakan bahwa Kristus adalah "sempurna dalam kodrat ilahi, sempurna pula dalam kodrat manusia; sesungguhnya Allah yang sungguh-sungguh, dan sungguh-sungguh manusia yang sempurna, yang memiliki kodrat ilahi dan kodrat manusia dengan sempurna." Pernyataan ini menghasilkan doktrin gereja yang dikenal sebagai "Kristus Dua Kodrat (Chalcedonian Christology)".

Konsili Chalcedon juga membahas masalah gerejawi lainnya, termasuk pengaturan hierarki gereja dan hak-hak otonomi patriark-patriark gereja. Keputusan-keputusan yang diambil dalam Konsili Chalcedon menjadi landasan iman bagi gereja-gereja Kristen Ortodoks Timur dan Katolik Roma hingga saat ini.

tokoh Konsili Nicea

Konsili Nicea melibatkan para uskup dan tokoh gereja terkemuka pada masanya, terutama dari wilayah Romawi Timur. Mayoritas tokoh yang dihadiri oleh Konsili Nicea adalah uskup-uskup dari berbagai wilayah gereja di Kekaisaran Romawi.

Namun, terdapat beberapa tokoh penting yang memengaruhi pemikiran dan teologi yang diperdebatkan dalam Konsili Nicea, dan mereka memiliki hubungan dengan murid-murid Yohanes. Beberapa di antaranya adalah:

1. Santo Atanasius (296–373): Atanasius, yang kemudian menjadi Uskup Aleksandria, adalah salah satu pendukung utama doktrin Trinitas dan musuh utama ajaran Arianisme yang menjadi kontroversi pada waktu itu. Ia dianggap sebagai penjaga utama iman Nicea dan memainkan peran penting dalam membela keyakinan bahwa Yesus adalah sama esensinya dengan Allah Bapa.

2. Eusebius dari Kaisarea (260–339): Eusebius adalah sejarawan gereja yang terkenal dan merupakan Uskup Kaisarea pada saat itu. Meskipun ia memiliki pandangan yang berbeda mengenai ajaran Trinitas, Eusebius menjadi salah satu peserta utama dalam Konsili Nicea dan ikut menandatangani Konstitusi Nicea.

Kedua tokoh ini memiliki pengaruh signifikan dalam Konsili Nicea, meskipun mereka bukan langsung dari kelompok murid-murid Yohanes. Konsili Nicea melibatkan banyak uskup dan tokoh gereja lainnya yang mewakili berbagai wilayah gereja pada saat itu.

tokoh sebelum konsili nicea

Berikut adalah beberapa tokoh terkenal yang terkait dengan murid Yohanes dan periode sebelum Konsili Nicea:

1. Santo Ignatius dari Antiokhia († sekitar tahun 108): Ignatius adalah Uskup Antiokhia yang dianggap sebagai murid langsung dari Rasul Yohanes. Ia menjadi martir dan meninggalkan surat-surat yang memberikan pandangan tentang doktrin dan struktur gereja pada masanya.

2. Santo Polikarpus dari Smirna († sekitar tahun 155): Polikarpus adalah uskup dan martir yang juga dianggap sebagai murid langsung dari Rasul Yohanes. Ia dikenal karena kesetiaannya pada iman dan surat-suratnya yang masih ada hingga saat ini.

3. Santo Ireneus dari Lyon († sekitar tahun 202): Ireneus adalah seorang teolog awal yang dilahirkan di Asia Kecil dan dianggap sebagai murid langsung dari Polikarpus. Ia berjuang melawan bidah dan menulis karya-karya penting dalam membela iman dan otoritas gereja.

4. Origenes (185–254): Origenes adalah seorang teolog dan filsuf Kristen yang berperan dalam mengembangkan teologi dan pemikiran Kristen pada masa itu. Meskipun bukan murid langsung Yohanes, ia merupakan salah satu tokoh yang dipengaruhi oleh ajaran-ajaran murid-murid Yohanes.

5. Tertulianus (155–240): Tertulianus adalah seorang penulis dan teolog awal yang penting dalam perkembangan teologi dan apologetika Kristen. Ia dianggap sebagai salah satu tokoh berpengaruh pada zamannya dan memberikan sumbangan penting bagi pemikiran Kristen.

Periode ini mencakup beberapa tokoh lainnya yang memiliki pengaruh dalam pengembangan doktrin dan praktek gereja Kristen pada saat itu. Namun, ini hanya sebagian kecil dari tokoh-tokoh yang terkait dengan murid Yohanes dan periode sebelum Konsili Nicea.

doktrin Sabelius

Konsili Nicea dan Konsili Konstantinopel memiliki pengaruh terhadap pandangan terhadap Sabelianisme atau doktrin Sabelius.Sabelianisme adalah ajaran yang dikembangkan oleh Sabelius, seorang teolog abad ke-3 Masehi, yang menyatakan bahwa Allah adalah satu dan bertindak dalam tiga mode atau manifestasi yang berbeda, yaitu sebagai Allah Bapa, Allah Putra (Yesus Kristus), dan Allah Roh Kudus. Dalam pandangan Sabelius, ketiga pribadi Tritunggal hanya merupakan cara yang berbeda dari manifestasi Tuhan yang sama.Namun, pandangan Sabelianisme ini ditentang dan dianggap bertentangan dengan ajaran yang dihasilkan dari Konsili Nicea dan Konsili Konstantinopel. Konsili-konsili tersebut menegaskan ajaran Tritunggal yang mengajarkan bahwa Allah adalah satu dalam tiga pribadi yang sejajar dan memiliki esensi yang sama. Kredo Nicea dan Kredo Nicea-Konstantinopel, yang dihasilkan dari konsili-konsili tersebut, menegaskan eksistensi pribadi-pribadi yang berbeda dalam Tritunggal (Allah Bapa, Yesus Kristus, dan Roh Kudus), tetapi juga menyatakan bahwa mereka memiliki esensi yang sama.Dalam menghadapi Sabelianisme, Konsili-konsili tersebut menyatakan bahwa Allah Bapa, Yesus Kristus, dan Roh Kudus bukan hanya mode manifestasi yang berbeda dari Tuhan yang sama, tetapi merupakan pribadi-pribadi yang berbeda namun memiliki persatuan yang tidak terpisahkan dalam keesaan Allah.Akibatnya, ajaran Sabelianisme dianggap sesat oleh gereja-gereja yang menganut keyakinan yang dihasilkan dari Konsili Nicea dan Konsili Konstantinopel. Gereja-gereja tersebut menganggap Sabelianisme sebagai penyalahgunaan dan penyimpangan dari pengertian yang benar tentang Tritunggal dan hakikat Allah yang diajarkan dalam Kitab Suci dan diakui dalam kredo-kredo gerejawi.

Kredo Nicea. Konstantinopel dan Pengakuan Iman Rasuli

Berikut adalah dua versi kredo yang dihasilkan oleh Konsili Nicea dan Konsili Konstantinopel:

1. Kredo Nicea:
"Aku percaya kepada Allah Bapa Yang Maha Kuasa,
Pencipta langit dan bumi, yang kasatmata dan tak kasatmata.
Dan kepada Yesus Kristus, Anak-Nya yang tunggal, Tuhan kita,
yang dikandung oleh Roh Kudus, lahir dari Maria Perawan,
menderita di bawah Pontius Pilatus, disalibkan, mati dan dikuburkan,
turun ke dalam alam maut, pada hari yang ketiga bangkit pula dari antara orang mati,
naik ke sorga, duduk di sebelah kanan Allah Bapa Yang Maha Kuasa,
dan dari sana Ia akan datang untuk menghakimi orang hidup dan mati.
Aku percaya kepada Roh Kudus.
Aku percaya kepada Gereja yang kudus, umat yang kudus,
pengampunan dosa, kebangkitan tubuh dan hidup yang kekal."

2. Kredo Nicea-Konstantinopel:
"Aku percaya kepada Allah Bapa Yang Maha Kuasa,
Pencipta langit dan bumi,
dan segala sesuatu yang terlihat dan tak terlihat.
Aku percaya kepada satu Tuhan Yesus Kristus,
Anak Allah yang tunggal, yang dilahirkan dari Bapa sebelum segala abad,
cahaya dari cahaya, Allah sejati dari Allah sejati,
dikandung, bukan dijadikan, yang sejajar dengan Bapa,
melalui Dia segala sesuatu dijadikan.
Dalam hal kami, manusia, dan karena keselamatan kami,
Ia turun dari surga,
menjadi daging oleh pekabaran Roh Kudus dari Maria Perawan,
dan menjadi manusia.
Ia disalibkan bagi kami di bawah Pontius Pilatus,
menderita dan dikuburkan.
Ia bangkit pada hari yang ketiga, sesuai dengan Kitab Suci.
Ia naik ke sorga dan duduk di sebelah kanan Bapa.
Ia akan datang kembali dengan mulia untuk menghakimi orang hidup dan mati,
dan kerajaan-Nya tidak akan berkesudahan.
Aku percaya kepada Roh Kudus, Tuhan dan pemberi kehidupan,
yang datang dari Bapa dan Anak.
Dengan Bapa dan Anak Ia bersama-sama dipuja dan dimuliakan;
Ia yang berbicara melalui nabi-nabi.
Aku percaya kepada Gereja yang satu, kudus, katolik, dan apostolik.
Aku mengakui satu baptisan untuk pengampunan dosa.
Aku menantikan kebangkitan orang mati dan hidup yang kekal.
Amin."

Kedua kredo ini mengandung keyakinan dasar iman Kristen yang diakui oleh banyak denominasi Kristen.

Kredo Pengakuan Iman Rasuli, yang juga dikenal sebagai Kredo Rasuli atau Kredo Apostolik, adalah kredo yang lebih singkat dan lebih awal dalam sejarah gereja daripada Kredo Nicea dan Kredo Nicea-Konstantinopel. Berikut ini adalah teks dari Kredo Pengakuan Iman Rasuli:

"Aku percaya kepada Allah Bapa Yang Mahakuasa, Pencipta langit dan bumi.
Dan kepada Yesus Kristus, Anak-Nya yang tunggal, Tuhan kita,
yang dikandung oleh Roh Kudus, lahir dari Maria Perawan,
menderita di bawah Pontius Pilatus, disalibkan, mati dan dikuburkan,
turun ke dalam alam maut, pada hari yang ketiga bangkit pula dari antara orang mati,
naik ke sorga, duduk di sebelah kanan Allah Bapa Yang Mahakuasa,
dari sana Ia akan datang untuk menghakimi orang hidup dan mati.
Aku percaya kepada Roh Kudus,
gereja yang kudus,
pengampunan dosa,
kebangkitan tubuh,
dan hidup yang kekal. Amin."

Perbedaan utama antara Kredo Pengakuan Iman Rasuli dengan Kredo Nicea dan Kredo Nicea-Konstantinopel adalah panjangnya dan detailnya. Kredo Pengakuan Iman Rasuli lebih singkat dan terdiri dari pernyataan-pernyataan inti yang mencakup keyakinan dasar iman Kristen. Sementara itu, Kredo Nicea dan Kredo Nicea-Konstantinopel lebih panjang dan lebih rinci dalam menjelaskan aspek-aspek doktrinal yang lebih spesifik, seperti Tritunggal, inkarnasi Yesus Kristus, dan peran Roh Kudus.

Kredo Nicea dan Kredo Nicea-Konstantinopel juga merupakan pengembangan dari Kredo Pengakuan Iman Rasuli, yang mencakup perluasan dan penegasan doktrin-doktrin tertentu yang menjadi perdebatan pada masanya. Karena itu, Kredo Nicea dan Kredo Nicea-Konstantinopel lebih lengkap dan menyeluruh dalam merangkum keyakinan dan doktrin iman Kristen.

Hasil dari Konsili Konstantinopel

Konsili Konstantinopel diadakan pada tahun 381 Masehi di Konstantinopel (sekarang Istanbul, Turki). Konsili ini menghasilkan beberapa hasil penting:

1. Penegasan Doktrin Tritunggal: Konsili Konstantinopel menguatkan dan memperdalam doktrin Tritunggal, yaitu keyakinan bahwa Allah adalah satu dalam tiga pribadi yaitu Allah Bapa, Yesus Kristus, dan Roh Kudus. Konsili ini menegaskan bahwa Roh Kudus juga memiliki esensi yang sama dengan Allah Bapa dan Yesus Kristus.

2. Penyusunan Kredo Nicea-Konstantinopel: Konsili Konstantinopel memperluas dan memodifikasi Kredo Nicea yang telah disusun pada Konsili Nicea tahun 325 Masehi. Kredo Nicea-Konstantinopel menjadi salah satu ringkasan utama keyakinan iman Kristen. Kredo ini menjadi dasar iman ortodoks dan banyak denominasi Kristen lainnya. Kredo ini diterima secara luas sebagai pernyataan iman Kristen yang sah.

3. Pengakuan Patriarkat Konstantinopel: Konsili Konstantinopel memberikan pengakuan resmi kepada gereja di Konstantinopel sebagai patriarkat kedua setelah Roma. Hal ini memperkuat posisi gereja Konstantinopel sebagai pusat keagamaan dan politik di Kekaisaran Romawi Timur. Gereja di Konstantinopel memperoleh kekuasaan dan kehormatan yang lebih besar dalam struktur gereja.

4. Pembatasan kekuasaan Alexandria dan Antiokhia: Konsili ini juga membatasi kekuasaan gereja-gereja Alexandria dan Antiokhia. Gereja di Alexandria kehilangan wilayah keuskupannya di wilayah Mesir dan Libya, sementara gereja di Antiokhia kehilangan wilayahnya di wilayah Asia Kecil.

Hasil dari Konsili Konstantinopel berdampak luas dalam sejarah gereja Kristen. Kredo Nicea-Konstantinopel menjadi salah satu dasar utama dari keyakinan Kristen dan mempengaruhi perkembangan doktrin gereja. Selain itu, penegasan posisi Konstantinopel sebagai patriarkat kedua memberikan pengaruh yang signifikan terhadap hierarki gereja dan struktur keagamaan di Bizantium dan Kekaisaran Romawi Timur.

Konsili Nicea dan Konsili Konstantinopel

Konsili Nicea dan Konsili Konstantinopel adalah dua konsili ekumenis yang penting dalam sejarah gereja Kristen. Meskipun keduanya diadakan dalam konteks sejarah dan peristiwa yang terkait, mereka memiliki beberapa perbedaan penting:

1. Konteks dan Tanggal: Konsili Nicea diadakan pada tahun 325 Masehi di Nicea (sekarang İznik, Turki), sementara Konsili Konstantinopel diadakan pada tahun 381 Masehi di Konstantinopel (sekarang Istanbul, Turki).

2. Fokus Doktrin: Konsili Nicea difokuskan pada isu-isu keesaan Allah dan hubungan antara Yesus Kristus dan Allah Bapa. Salah satu isu utama yang dibahas adalah ajaran Arius, yang menyatakan bahwa Yesus Kristus adalah ciptaan Allah dan bukan sama esensinya dengan Allah Bapa. Konsili Nicea menghasilkan penyusunan Kredo Nicea, yang menyatakan bahwa Yesus adalah "Allah dari Allah, cahaya dari cahaya, Allah yang benar dari Allah yang benar, yang dikandung, bukan dijadikan, sama esensinya dengan Bapa."

Konsili Konstantinopel, di sisi lain, memperdalam diskusi tentang Tritunggal dan berfokus pada pengembangan konsep Roh Kudus. Konsili ini menegaskan bahwa Roh Kudus juga memiliki esensi yang sama dengan Allah Bapa dan Yesus Kristus dalam Tritunggal. Kredo Nicea diperluas menjadi Kredo Nicea-Konstantinopel, yang menjadi salah satu ringkasan utama dari keyakinan iman Kristen.

3. Penegasan Status Gereja: Konsili Konstantinopel juga menguatkan status gereja di Konstantinopel sebagai patriarkat kedua setelah Roma. Hal ini memperkuat posisi gereja Konstantinopel sebagai pusat keagamaan dan politik di Kekaisaran Romawi Timur.

4. Dampak dan Pengaruh: Konsili Nicea dan Konsili Konstantinopel berdampak besar dalam membentuk keyakinan dan doktrin Kristen. Kredo-kredo yang dihasilkan oleh kedua konsili ini menjadi dasar iman ortodoks dan banyak denominasi Kristen lainnya. Konsili Konstantinopel juga memainkan peran penting dalam membentuk hierarki gereja dan struktur keagamaan di Bizantium dan Kekaisaran Romawi Timur.

Meskipun demikian, perbedaan-perbedaan ini tidak bermaksud untuk mengabaikan kesinambungan dan keterkaitan antara kedua konsili ini dalam sejarah Kristen. Keduanya merupakan tonggak penting dalam pembentukan dan perkembangan doktrin gereja Kristen awal.

Arianus

Paham Arianus adalah pandangan teologis yang dipimpin oleh Arius, seorang pendeta di Aleksandria pada abad ke-4. Paham ini menyatakan bahwa Yesus Kristus adalah makhluk ciptaan Allah, dan bukan Allah yang sama dengan Allah Bapa dalam substansi atau hakikat-Nya. Menurut paham Arianus, Yesus Kristus dianggap sebagai makhluk tertinggi dan mulia, tetapi tidak setara dengan Allah Bapa.

Paham Arianus menjadi sangat berpengaruh pada masa itu dan memicu perdebatan yang intens antara pendukung dan penentangnya. Hal ini mengakibatkan perpecahan dalam Gereja pada saat itu, dan perselisihan ini berperan penting dalam penyelesaian masalah teologis dan perumusan keyakinan akan Tritunggal.

Konsili Nicea pada tahun 325 Masehi, yang telah disebutkan sebelumnya, secara khusus diselenggarakan untuk menanggapi ajaran Arius. Konsili tersebut menolak pandangan Arianus dan menegaskan ajaran keesaan Allah dan kesetaraan Allah Bapa dan Yesus Kristus dalam substansi atau hakikat. Kredo Nicea yang dihasilkan dari konsili ini menegaskan ajaran Tritunggal dan keyakinan akan keesaan Allah dalam tiga pribadi yang sama dan setara.

Pada abad berikutnya, perdebatan tentang paham Arianus dan Trinitas berlanjut. Paham Arianus masih memiliki pengikutnya, dan diperlukan usaha lebih lanjut dari para teolog dan konsili gerejawi untuk menegakkan keyakinan akan Tritunggal dan menentang pandangan Arianus. Konsili-konsili selanjutnya seperti Konsili Konstantinopel pada tahun 381 Masehi memberikan klarifikasi dan pengembangan lebih lanjut mengenai ajaran Tritunggal.

Sebagai akibat dari perdebatan ini, keyakinan akan Tritunggal menjadi lebih jelas dan kokoh dalam teologi Kristen dan menjadi ajaran sentral yang diterima oleh mayoritas gereja-gereja Kristen.

Konsep Kenosis (pengosongan diri)

Konsep Kenosis (pengosongan diri) merujuk pada ajaran bahwa Yesus, dalam kehidupan-Nya sebagai manusia, secara sukarela mengosongkan diri-Ny...