Rabu, 14 Juni 2023

Tritunggal 5

Kejamakan Allah, merujuk pada konsep bahwa Allah adalah jamak atau ada dalam bentuk keberagaman yang terpadu. Dalam hal ini, kata "echad" digunakan untuk menggambarkan kejamakan Allah, yang berarti ada satu Allah dalam keberagaman yang terpadu.

Dalam rangka mengembangkan detail dan menganalisis setiap ayat Alkitab yang Anda sebutkan tentang kejamakan Allah, berikut adalah penjelasan tentang ayat-ayat tersebut:

1. Ulangan 6:4:
"Mendengarlah, hai Israel: TUHAN, Allah kita, TUHAN itu esa!"

Ayat ini menekankan keesaan Allah, yang dinyatakan dalam frasa "TUHAN itu esa." Meskipun kata "esa" dalam ayat ini digunakan dalam arti tunggal, dalam konteks keseluruhan Kitab Ulangan dan pemahaman Ibrani, hal ini mengandung makna lebih dalam yang menggambarkan kejamakan Allah. Meskipun ada keberagaman dalam karakteristik dan atribut Allah, Dia tetap satu dan tidak dapat dibagi-bagi.

2. Kejadian 1:26-27:
"Lalu berfirmanlah Allah: Baiklah Kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa Kita, supaya mereka berkuasa atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas ternak dan atas seluruh bumi dan atas segala binatang melata yang merayap di bumi. Maka Allah menciptakan manusia itu menurut gambar-Nya, menurut gambar Allah diciptakan-Nya dia; sebagai laki-laki dan perempuan diciptakan-Nya mereka."

Ayat ini menunjukkan kejamakan Allah dalam konteks penciptaan manusia. Frasa "Kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa Kita" menunjukkan adanya keberagaman dalam Allah yang berpadu menjadi satu. Manusia diciptakan menurut gambar Allah yang tidak dapat dijelaskan secara fisik, mencerminkan kejamakan Allah dalam wujud manusia sebagai laki-laki dan perempuan.

3. Kejadian 3:22:
"Lalu TUHAN, Allah, berfirman: 'Sesungguhnya manusia itu telah menjadi seperti salah satu dari Kita, tahu tentang yang baik dan yang jahat.'"

Ayat ini menggambarkan peristiwa setelah dosa manusia pertama di Taman Eden. Allah menyatakan bahwa manusia telah menjadi seperti salah satu dari "Kita", menunjukkan kejamakan Allah dalam konteks yang terpadu. Meskipun Allah berbicara dalam bentuk jamak, hal ini menegaskan bahwa keberagaman dalam pengetahuan dan pemahaman tentang yang baik dan yang jahat ada dalam Allah yang esa.

4. Kejadian 11:7:
"Marilah turun dan Kita bercampur bahasa mereka, sehingga seorang tidak mengerti lagi bahasa seorang yang lain."

Ayat ini merujuk kepada peristiwa pembangunan Menara Babel. Allah menggunakan kata ganti "Kita

" dalam konteks kejamakan-Nya untuk menunjukkan tindakan-Nya yang melibatkan keberagaman yang terpadu. Allah berkuasa untuk mencampur bahasa manusia dan memperkenalkan keberagaman bahasa sebagai hukuman atas kebanggaan manusia.

5. Kejadian 19:24:
"Lalu TUHAN menurunkan hujan belerang dan api yang berasal dari TUHAN dari langit, menghancurkan Sodom dan Gomora."

Ayat ini mengisahkan penghancuran Sodom dan Gomora oleh Allah sebagai hukuman atas kejahatan mereka. Dalam ayat ini, penggunaan kata "TUHAN" dalam bentuk jamak menunjukkan kejamakan Allah dalam tindakan penghukuman-Nya. Allah yang esa, dalam keberagaman-Nya, menunjukkan kuasa-Nya dalam menghancurkan kota-kota tersebut.

6. Kejadian 22:1-19:
"Kemudian datanglah firman TUHAN kepada Abraham dalam suatu penglihatan, demikian: 'Abraham!' Jawabnya: 'Ya, Tuhan.' Firman-Nya: 'Ambillah anakmu, anakmu yang tunggal itu, yang engkau kasihi, yaitu Ishak, pergilah ke tanah Moria dan persembahkanlah dia di sana sebagai korban bakaran pada salah satu gunung yang akan Kukatakan kepadamu.'"

Ayat ini menceritakan perintah Allah kepada Abraham untuk mengorbankan anak tunggalnya, Ishak. Penggunaan kata "TUHAN" dalam bentuk jamak menunjukkan kejamakan Allah dalam perintah-Nya kepada Abraham. Meskipun hanya ada satu Allah yang esa, perintah ini menggambarkan keberagaman dalam kehendak dan tindakan Allah yang terpadu.

Dengan menganalisis ayat-ayat tersebut, terlihat bahwa meskipun ada penggunaan kata "TUHAN" dalam bentuk tunggal, konteks keseluruhan dan pengertian Ibrani mendukung konsep kejamakan Allah. Dalam kejamakan-Nya, Allah adalah satu dalam keberagaman yang terpadu, mencakup karakteristik dan atribut-Nya yang unik.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Konsep Kenosis (pengosongan diri)

Konsep Kenosis (pengosongan diri) merujuk pada ajaran bahwa Yesus, dalam kehidupan-Nya sebagai manusia, secara sukarela mengosongkan diri-Ny...