1. Penegasan Doktrin Tritunggal: Konsili Konstantinopel menguatkan dan memperdalam doktrin Tritunggal, yaitu keyakinan bahwa Allah adalah satu dalam tiga pribadi yaitu Allah Bapa, Yesus Kristus, dan Roh Kudus. Konsili ini menegaskan bahwa Roh Kudus juga memiliki esensi yang sama dengan Allah Bapa dan Yesus Kristus.
2. Penyusunan Kredo Nicea-Konstantinopel: Konsili Konstantinopel memperluas dan memodifikasi Kredo Nicea yang telah disusun pada Konsili Nicea tahun 325 Masehi. Kredo Nicea-Konstantinopel menjadi salah satu ringkasan utama keyakinan iman Kristen. Kredo ini menjadi dasar iman ortodoks dan banyak denominasi Kristen lainnya. Kredo ini diterima secara luas sebagai pernyataan iman Kristen yang sah.
3. Pengakuan Patriarkat Konstantinopel: Konsili Konstantinopel memberikan pengakuan resmi kepada gereja di Konstantinopel sebagai patriarkat kedua setelah Roma. Hal ini memperkuat posisi gereja Konstantinopel sebagai pusat keagamaan dan politik di Kekaisaran Romawi Timur. Gereja di Konstantinopel memperoleh kekuasaan dan kehormatan yang lebih besar dalam struktur gereja.
4. Pembatasan kekuasaan Alexandria dan Antiokhia: Konsili ini juga membatasi kekuasaan gereja-gereja Alexandria dan Antiokhia. Gereja di Alexandria kehilangan wilayah keuskupannya di wilayah Mesir dan Libya, sementara gereja di Antiokhia kehilangan wilayahnya di wilayah Asia Kecil.
Hasil dari Konsili Konstantinopel berdampak luas dalam sejarah gereja Kristen. Kredo Nicea-Konstantinopel menjadi salah satu dasar utama dari keyakinan Kristen dan mempengaruhi perkembangan doktrin gereja. Selain itu, penegasan posisi Konstantinopel sebagai patriarkat kedua memberikan pengaruh yang signifikan terhadap hierarki gereja dan struktur keagamaan di Bizantium dan Kekaisaran Romawi Timur.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar